Universitas Kelas Dunia, Hanya Mimpi


Pada Diesnatalis Unhas yang ke 51 lalu, para petinggi kampus ini mencoba menggagas Unhas sebagai sebuah universitas yang berkelas dunia. Ini tesirat lewat tema diesnatalis. “Capacity building to towards world class university”. Itulah yang kemudian dipublikasikan lewat spanduk, stiker, internet dan lain-lain. Rupanya ide ini telah ada sejak pembahasan rencana strategis Unhas, yang hakikatnya memiliki empat poin utama. Pertama, memiliki sistem pendidikan yang handal. Kedua, manajemen universitas yang efektif. Ketiga, penelitian yang terpadu dan keempat lingkungan kampus yang asri.
Berangkat dari situlah petinggi kampus ini mulai melakukan perubahan, penataan dan perbaikan kampus. Namun, sepertinya pembenahan yang dilakukan masih saja bersifat tiba-tiba, sporadis dan tak terencana dengan baik.
Masih lekat dalam ingatan kita, bagaimana kampus dibenahi ketika presiden SBY bertandang ke kampus ini. Kemudian berlanjut saat kedatangan JK dan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Saat itu para buruh bekerja siang malam, seperti dikejar deadline. Hasilnya, tentu saj tak maksimal. Lebih lucu lagi, saat kunjungan JK meninjau asrama mahasiswa, mahasiswa yang masih menetap dihimbau untuk mengosongkan ramsis . Aneh juga melihat prilaku birokrat kita yang tak konsisten. Kadang kala berorasi dengan semangat perubahan, namun disisi lain rupanya mencoba menyembunyikan kebobrokan yang ada.
Dari keempat acuan Unhas tadi, mungkin hanya bagian pembenahan fisik yang mulai kelihatan. Itupun tak punya blue print dan perencanaan yang bagus.


Menjadi universitas kelas dunia mungkin saja baru sebatas cita-cita. Sebab pencapaian ke arah itu tidak jelas terlihat. Malah yang muncul dan tercitrakan adalah unhas yang tak layak. Betapa tidak, sungguh miris mendengar kampus terbesar di indonesi timur ini tak masuk hitungan Dikti sebagai universitas terbaik di Indonesia. Berbagai dalih pun dilontarkan untuk membatah putusan itu. Profil Unhas tak dikirimlah, database yang tak lengkap, suratnya tak sampai dan lain-lain. Meski ada pembelaan, kenyatannya adalah Unhas memang tak masuk daftar.


Parahnya lagi, saat Inspektur Wilayah IV Inspektorat Depdiknas melakukan audit internal terhadap kinerja birokrasi kampus ini. Hasil temuannya membuktikan jika di kampus ini masih saja terjangkit oleh fenomena dosen malas. Mestinya hal ini membuat birokrasi dan dosen merasa malu. Sebab kita masih ingat saat rektorat menambah subsidi untuk dosen yang hadir tatap muka dengan mahasiswa. Namun, rupanya sifat dasar dosen kita yang hasrat mengejar proyek lebih besar daripada membagi ilmunya pada mahasiswa. Lalu dimana tanggungjawab moral dosen atas gaji yang diterimanya per bulan?

Mimpi untuk jadi universitas kelas dunia sebaiknya diawali dengan pencapaian dari hal-hal kecil. Semisal memperbaiki sistem pembelajaran, pelayanan akademik, pengaturan alur krs, mendorong mahasiswa melakukan riset, dan paling utama adalah mengubah maind set dosen dan pegawai.

Selanjutnya dengan menyiapkan sarana dan fasilitas yang memadai untuk proses belajar mengajar. Ataupun proses penelitian dosen dan mahasiswa. Sebab, fasilitas di kampus ini masih minim. Memang ada jaringan nirkabel, namun hanya bisa dinimati oleh sebagian kecil orang. Tak lupa juga, penataan ulang perpustakaan dan koleksinya. Sebab perpustakaan adalah jantung dari sebuah unviersitas.

Pembenahan internal dan eksternal kampus ini sejak dini mesti dilakukan. Tidak hanya terus menerus mempercantik Unhas dari segi penampakan luarnya. Apalah artinya jika didalamnya terdapat kebobrokan yang besar.

Menilik langkah Unhas jadi universitas kelas dunia, Mungkin saja masih berada pada jalur yang salah. Banyak hal yang masih butuh perhatian. Hal di atas hanya sebagian kecil permasalahan yang menimpa Unhas. Begitu pun dengan segudang pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Namun langkah apapun yang ditempun ak akan maksimal. Jika saja rektor sebagai decision maker tak mampu memanajemen kampus. Pada akhirnya unhas hanya berilusi ataupun bermimpi jadi universitas kelas dunia.

0 comments:

Post a Comment

ISI APA ADANYA

 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic