Toraja, Rambu Solo dan Kematian yang Sempurna


Indonesia memiliki banyak daerah wisata yang unik dan menarik buat para wisatawan. Misalnya di Bali, Yokyakarta, Lombok dan Jakarta. Namun berbeda dengan Toraja. Salah satu tujuan wisata di wilayah Sulawesi Selatan yang masih memelihara budaya, adat-istiadat para leluhur terdahulu. Masyarakat Toraja memegang teguh prinsip adat tersebut sehigga tak lekang oleh waktu. Kekuatan budaya dan adat-istiadat itulah yang membuat Toraja berbeda dengan daerah lainnya. Selain menawarkan adat-istiadat yang beraneka ragam dan unik. Di daerah berpenduduk 1 juta jiwa tersebut, para penikmat wisata bisa menyaksikan hamparan pegunungan yang masih asri, tegalan sawah dan lembah dengan pohon pinus yang membuat mata tak pernah bosan memandang. Salah satu keunggulan Toraja yakni ketaatan masyarakat dalam menjalankan perintah leluhurnya. Pun hingga saat ini, hal itu membuat Toraja terkenal ke penjuru dunia. Masyarakat Toraja masih melestarikan upacara Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara kematian yang dilakukan pada keluarga yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. Setiap ada yang meninggal, maka kewajiban saudara yang masih hidup menggelar pesta yang besar. Pesta ini menjadi bukti penghormatan pada keluarga yang pergi.

Pesta Rambu Solo dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada setiap saudara yang sudah meninggal. Penghormatan itu dianggap sebagai persembahan yang terakhir sebelum bertemu dengan Tuhan. Masyarakat Toraja percaya bahwa kematian akan sempurna jika prosesi itu dilakukan. Tradisi Rambu Solo termasuk proses penyempurnaan kematian. Karena sebelum dilakukan, orang yang meninggal akan dianggap sakit atau lemah. Sehingga, jasadnya selama pesta belum dilakukan akan dibaringkan di Tongkonan ( rumah adat Toraja). Kewajiban keluarga yang masih hidup yakni membuat pesta pemakaman. Prosesi itu menghabiskan dana yang tak sedikit. Semakin tinggi tingkat sosial dan derajat kebangsawanan, maka pesta yang dilakukan juga semakin meriah. Biasanya pesta diadakan tujuh hari lamanya. Hal ini dikenal dengan Dipapitung Bongi. Hewan yang dipersembahkan juga jumlahnya cukup banyak. Jumlah kerbau 25 – 150 ekor, babi 50 – 350 ekor. Kerbau yang dikurbankan juga bukan kerbau biasa. Melainkan kerbau pilihan khas Toraja (Tedong Bonga) dengan harga yang lumayan besar. Satu ekor kerbau bisa seharga Rp 300 - 350 Juta. Makanya Rambu Solo yang besar menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Rambu Solo yang lengkap disebut sapu randanan sarrinna bone bone (pesta terlengkap) karena semua jenis kerbau (Tedong Bonga) yang dipersembahkan lengkap. Kemeriahan Rambu Solo bisa kita temukan di Toraja atau Toraja Utara. Setiap akhir tahun (Desember) rangkaian prosesi upacara kematian yang megah biasa digelar di daerah yang jaraknya 350 km dari Makassar tersebut. Kemeriahan terlihat saat puncak acara Rambu Solo. Secara umum prosesi Rambu Solo dimulai dengan Ma paroko paladan. Yaitu meurunkan jenazah dari rumah ke teras Tongkonan. Selanjutnya semua jenis kerbau yang akan dipersembahkan akan diberi nama oleh tujuh tokoh adat. Setelah itu Ma pasa tedong. Kerbau pilihan akan diadu satu sama lain di sebuah lapangan luas. Ribuan masyarakat berkumpul di lapangan menanti adu kerbau tersebut. Setelah mengadu kerbau pilihan, prosesi yang menarik bagi masyarakat toraja yakni Ma pasisemba. Tradisi baku tendang antara penduduk kampung dianggap sebagai tanda persahabatan. Masyarakat akan berkumpul di lapangan, berhadap-hadapan dan melakukan aksi “kungfu” secara bersama. Seorang tokoh adat berdiri di tengah lapangan menjadi pemandu tanda si semba di mulai. Pada hari pemakaman jenazah dipindahkan dari teras ke depan rumah, lalu kemudian jenazah diarak keliling kota Toraja sebelum diantar ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam proses ini ribuan masyarakat akan mengiringi jenazah. Sambil membentangkan kain berwarna merah yang cukup pajang.
Setelah prosesi pemakaman usai, keluarga menerima tamu undangan, kerabat dan para pejabat yang berkunjung ke rumah duka. Proses menerima tamu ini dilakukan bersamaan dengan mengurbankan Tedong Bonga. Caranya pun sangaat unik yakni hanya dengan melakukan satu kali tebasan pada leher kerbau itu. Daging kerbau tersebut kemudian dibagi-bagikan pada warga dan dijadikan santapa selama menerima tamu. Proses itu pun berakhir setelah pesta menerima tamu undangan usai. Rambu Solo membuat kematian menjadi sempurna sebab dalam kepercayaan masyarakat Toraja, Dewata akan menerima segala pengorbanan anak cucu yang masih hidup .
Kuburan batu Londa
Mayat yang telah disimpan bertahun-tahun itu tak dimakamkan seperti masyarakat pada umumnya. Di Toraja, masyarakat memiliki lokasi pemakaman yang unik, dikenal dengan nama Londa. Londa itu merupakan kuburan yang terbuat dari batu. Mayat yang sudah meninggal hanya disimpan dalam peti lalu diletakkan di dalam gua batu tersebut.

Dulunya Londa merupakan lokasi pemakaman satu keluarga. Namun akhirnya dibuka karena minat masyarakat untuk melihat kawasan itu amat besar. di Londa terdapat banyak tengkorak kepala manusia yang berumur ratusan tahun. Selain itu juga terdapat banyak tulang-tulang yang berserakan. Untuk menunjukkan jumlah orangy ang sudah meninggal dibuat tau-tau. Tau-tau merupakan pertanda banyaknya masyarakat Toraja yang telah dikubur di lokasi tersebut. Selain Londa juga terdapat kawasan penguburan batu Lemo.

 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic