BERURUSAN DENGAN BIROKRASI 1

Berurusan dengan birokrasi adalah pekerjaan paling membosankan, setidaknya inilah yang aku rasakan untuk saat ini. Seringkali aku berhadapan dengan birokrasi, namun tak banyak perubahan. Ujung-ujungnya dipersulit agar setiap masyarakat merasa jengah dan membayar jadi solusi terakhir. Sebenarnya hal seperti itu mungkin hanya akal-akalan para birokrat agar warga ini susah. Jadi untuk membuatnya lebih muda, ya ujung-ujungnya mesti dibayar.
Dua hari ini aku kembali berurusan dengan birokras. Tepatnya di sebuah kelurahan di Makassar. Ini terkait dengan penggantian nama kartu keluarga yang salah cetak. Nah, setelah sampai di kelurahan. Pegawai kelurahan memintaku menemui seorang perempuan tua (kira-kira 40 an). Dia ternyata adala pegawai yang mengurusi masalah kependudukan. Matanya sipit, makin kelihatan jika pegawai itu cukup rabun dilihat dari kacamatanya yang tebal.


Tak lama kemudian aku cerita tentang keinginanku mengganti kartu keluarga yang salah cetak. Namun, pegawai itu tak banyak bereaksi. Ia lalu meminta kartu pbb. Kebetulan kartu yang ia minta tak ada. Disiniah ia mulai acuh tak acuh. Sepertinya ia mau mempersulit.
Aku masih tetap bertahan untuk kartu ini diuruskan. Mungkin karena aku terlihat panik setelah ia minta surat pengantr dari rt, rw dan kelwngkapan lainnya. Maka ia minta dia saja yang urus. Ia mulai mengestimasi pengeluaran. Misalnya untu 2 kartu keluarga bayarannya Rp.30 ribu. Terus untuk keterangan pindah penduduk biayanya Rp 60 ribu untuk di kecamatan dan Rp.60 ribu di kantor catatan sipil. Aku memerhatikan pegawai ini cukup lihai dengan hitung-hitungan tersebut.
“Jadi bagaimana, saya mo yang urus,” ujarnya. Karena aku berpikir memang ebih baik kalau dia yang urus maka aku iakan.

bersambung


 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic