nilai - nilai penelitian

0 5 10 15 20
30,33333 29,33333 28,33333 27,66667 26,66667

30,66667 31 31,66667 31,66667 32,33333





BERURUSAN DENGAN BIROKRASI 1

Berurusan dengan birokrasi adalah pekerjaan paling membosankan, setidaknya inilah yang aku rasakan untuk saat ini. Seringkali aku berhadapan dengan birokrasi, namun tak banyak perubahan. Ujung-ujungnya dipersulit agar setiap masyarakat merasa jengah dan membayar jadi solusi terakhir. Sebenarnya hal seperti itu mungkin hanya akal-akalan para birokrat agar warga ini susah. Jadi untuk membuatnya lebih muda, ya ujung-ujungnya mesti dibayar.
Dua hari ini aku kembali berurusan dengan birokras. Tepatnya di sebuah kelurahan di Makassar. Ini terkait dengan penggantian nama kartu keluarga yang salah cetak. Nah, setelah sampai di kelurahan. Pegawai kelurahan memintaku menemui seorang perempuan tua (kira-kira 40 an). Dia ternyata adala pegawai yang mengurusi masalah kependudukan. Matanya sipit, makin kelihatan jika pegawai itu cukup rabun dilihat dari kacamatanya yang tebal.


Tak lama kemudian aku cerita tentang keinginanku mengganti kartu keluarga yang salah cetak. Namun, pegawai itu tak banyak bereaksi. Ia lalu meminta kartu pbb. Kebetulan kartu yang ia minta tak ada. Disiniah ia mulai acuh tak acuh. Sepertinya ia mau mempersulit.
Aku masih tetap bertahan untuk kartu ini diuruskan. Mungkin karena aku terlihat panik setelah ia minta surat pengantr dari rt, rw dan kelwngkapan lainnya. Maka ia minta dia saja yang urus. Ia mulai mengestimasi pengeluaran. Misalnya untu 2 kartu keluarga bayarannya Rp.30 ribu. Terus untuk keterangan pindah penduduk biayanya Rp 60 ribu untuk di kecamatan dan Rp.60 ribu di kantor catatan sipil. Aku memerhatikan pegawai ini cukup lihai dengan hitung-hitungan tersebut.
“Jadi bagaimana, saya mo yang urus,” ujarnya. Karena aku berpikir memang ebih baik kalau dia yang urus maka aku iakan.

bersambung


ANTARA SKRIPSI, BLOGGER, DAN DOSEN

Pekan ini mungkin jadi pekan tersulit yang akan aku hadapi. Betapa tidak aktivitas ku menjalani profesi sebagai seorang blogge pemula begitu menyita waktu. Dan mungkin anda akan tahu sendiri, jika layar yang menghubungkan manusia dengan dunia maya itu sangat menggoda. Meminta setiap pemakai wifi untuk tinggal berlama-lama. Apakah itu hanya sekadar mengutak-atik facebook, friendster dan berbagai macam fitur yang disiapakan om google.
Tadi siang, mengurusi skirpsi jadi prioritas, sekitar jam 10 an aku menuju fakultas menemui dosen. Seperti biasa, aktivitas sebagai mahasiswa yang sudah mau diselesaikan adalah mencari dosen dan meminta tandatangan, mengurus berkas dari loket ke loket, dari ruangan ke ruanga nlain, dari jurusan ke fakultas hingga rektrorat. Tanpa kami (mahasiswa akhir)sadari, kadang menjalani aktivitas di fakultas itu sama hanya dengan berjalan sampai beberapa kilometer.

Yang lebih parah, dalam waktu dekat, para penguji dan dosen pembimbing berencana keluar kota makassar. Dan hal itu tak bisa ditawar. Akhirnya kesibukan mengurusi berkas-berkas ujian menjadi dua kali lipat. Seorang kawanku samai bolak-balik fakultas rektorat. Itupun jika dilayani dengan baik. Sebab kadangkala semua pelayanan itu tergantung mood sang pegawai. “mengamuk saja di rektorat kalau dipersulit,” ujarku suatu waktu.
Pekan depan ternyata pembimbing pertamaku juga akan berangkat ke bogor. Sebuah berita yang cukup membuat aku panik. Pasalnya keberangkatannya mendadak dan tanpa ada informasi sebelumnya. Rupanya tak hanya aku yang begitu. Ada bebrapa teman yang juga bermasalah. Sungguh ujian yang butuh kesabaran. Ada ketakutan, kira-kira siapa yang bisa membantuku saat ujian nanti. Petuah-petuahnya masih di dengar oleh dosen-dosen muda. Atau bisakah aku ujian tanpa bapak itu. Soalnya syarat untuk bisa ikut ujian adalah adanya pembimbing dan dosen hadir semua.
Ujian, semog cepat berlalu...
Blogger, 28april08




Hujan

Tentang hujan, kau mesti paham, pada suatu masa di waktu lampau. seorang pernah sangat khawatir akan dirimu saat hujan datang





Pesan Singkat Seorang Kawan


Sekitar jam 9 malam tadi, aku sementara menyereput kopi di salah satu kedai kopi di Makassar. Tepanya di warung sederhana Pusat Muhammadiyah jalan perintis kemerdekaan. Tak lama berselang, tanpa aku sangka ada pesan singkat masuk ke ponsel ku.

Isinya singkat

“ lama tak mendengar kabarmu, di belahan bumi mana sekarang berpijak. Serasa ada yang hilang, hehe”


Aku terdiam lama. Megamati dan berpikir jika sms ini mungkin salah. Tapi benar adanya dari seseorang yang jauh. Kawan ku sejak SMA 5 yang kini mengabdi pada daerahnya sebagai abdi negara (PNS).

Lama aku mengamati, berfikir, dan menduga-duga...
Aku ingin menulis banyak tentang ini

Tapi mungkin di lain waktu. Banyak yang hal yang membuatku tak bisa menulis malam ini. mataku yang tak mampu lagi berdamai. Sementara besok pagi mesti menghadapi dosen untuk untuk melihat hasil asistensi pertama skripsiku

sudah jam 1.00 dini hari, pesan kawanku tadi mengingatkan akan betapa kadang kita merasa terasing dalam keramaian. dalam kondisi seperti ini aku jadi ingat lagunya Dewa 19. " di dalam keramaian aku masih merasa sepi, .."

ah sudahlah, semuanya hanya permainan imajinasi, tak banyak yang bisa kita lakukan. kecuali memainkan imajinasi menghadapi realitas yang makin menjemukan. segalanya seperti diukur dengan materi. orang-orang makin kehilangan diri yang sesungguhnya. tak mampu menjadi bagian dari komunitas sosial. banyak yang tak mampu bertahan akan teraleniasi dari kehidupan.

mungin kawan ku ini mengalami aleniasi dari kehidupan. tak punya teman berbagi, apalagi kawan yang memahami jalannya. karena dunia materialis selalu diukur dengan angka-angka dan penuh kesibukan tak bermakna orang-orangya.

kawan, life must go on
hidup tak berhenti disini.

Tadi sekitar jam 9 malam, aku sementara menyereput kopi di salah satu kedai kopi di Makassar. Tepanya di warung sederhana Pusat Muhammadiyah jalan perintis kemerdekaan. Tak lama berselang, tanpa aku sangka ada pesan singkat masuk ke ponsel ku.

Isinya singkat



“ lama tak mendengar kabarmu, di belahan bumi mana sekarang berpijak. Serasa ada yang hilang, hehe”

...................



Aku terdiam lama. Megamati dan berpikir jika sms ini mungkin salah. Tapi benar adanya dari seseorang yang jauh. Kawan ku sejak SMA 5 yang kini mengabdi pada daerahnya sebagai abdi negara (PNS).

Lama aku mengamati, berfikir, dan menduga-duga...
Aku ingin menulis banyak tentang ini

Tapi mungkin di lain waktu. Banyak yang hal yang membuatku tak bisa menulis malam ini. mataku yang tak mampu lagi berdamai. Sementara besok pagi mesti menghadapi dosen untuk untuk melihat hasil asistensi pertama skripsiku

sudah jam 1.00 dini hari, pesan kawanku tadi mengingatkan akan betapa kadang kita merasa terasing dalam keramaian. dalam kondisi seperti ini aku jadi ingat lagunya Dewa 19. " di dalam keramaian aku masih merasa sepi, .."

ah sudahlah, semuanya hanya permainan imajinasi, tak banyak yang bisa kita lakukan. kecuali memainkan imajinasi menghadapi realitas yang makin menjemukan. segalanya seperti diukur dengan materi. orang-orang makin kehilangan diri yang sesungguhnya. tak mampu menjadi bagian dari komunitas sosial. banyak yang tak mampu bertahan akan teraleniasi dari kehidupan.

mungin kawan ku ini mengalami aleniasi dari kehidupan. tak punya teman berbagi, apalagi kawan yang memahami jalannya. karena dunia materialis selalu diukur dengan angka-angka dan penuh kesibukan tak bermakna orang-orangya.

kawan, life must go on
hidup tak berhenti disini.

CATATAT PEMILU 2009

tulisan ini pernah dimuat di tribun timur
Perhelatan Pemilu yang dilaksanakan secara serentak di seluruh negeri Kamis(9/04) lalu merupakan pesta demokrasi bangsa Indonesia untuk kesekian kali. Tercatat pemilu kali ini merupakan pesta yang kesepuluh. Idealnya dari tahun ke tahun pemilu menjadi bagian penting dalam mendorong terjadinya perubahan pada kualitas demokrasi, menciptakan pemerintahan yang kuat. Selain itu mampu memberikan harapan baru bagi 240 juta rakyat dan memperbaiki catatan perjalanan bangsa ini.
Pemilu untuk pertama kali dimulai pada masa Orde Baru, 1955 menjadi tonggak sejarah perjalanan demokrasi bangsa ini. Dalam kondisi yang tak menentu pesta demokrasi mampu berjalan dengan lancar. Sebagian pengamat menilai pemilu saat itu memiliki kualitas yang cukup bagus. Seluruh rakyat menyuarakan hak pilihnya. Meskipun pada akhirnya ternyata gagal menciptakan pemerintahan yang kuat akibat besarnya friksi yang terjadi di pemerintahan.


Ketika masa orde baru berkuasa, pemilu mengalami masa paling surut. Demokrasi terus mengalami pengekangan oleh kelompok Golkarisme yang dipelopri oleh Soeharto. Saya masih ingat bagaimana di kampung saya dulu, setiap PNS wajib memilih partai beringin ini. Jika tidak maka akan dikucilkan dari pemerintahan atau dibuang ke pelosok paling jauh. Hal ini terus berlanjut selama puluhan tahun dan partai Golkar menjadi penguasa pada pemilu.
Kran demokrasi mulai terbuka setelah terjadi reformasi 98. Pemilu yang digelar pertama kali setelah kejatuhan penguasa orde baru itu setidaknya membawa harapan. Namun, sekali lagi ternyata belum mampu menghasilkan pemerintahan yang kuat. Pemilu tak mampu membawa perubahan yang signifikan pada kualitas kebangsaan. Begitu pula pada pemilu 2004, meski telah berhasil melaksanakan pemilu dengan tingkat partisipasi masyarakat yang meningkat. Namun, tetap saja belum mampu mentransformasi kehidupan rakyat.
Rakyat semakin miskin, lonjakan harga kebutuhan yang tidak stabil, konflik antar suku, agama, utang yang semakin meningkat dan korupsi yang merajalela di pemerintahan dan lembaga legislatif (DPR,DPRD).
Berharap Pada Pemilu 2009
Dalam kondisi negara yang tak stabil seperti itu, pemilu 2009 diharapkan mampu menjadi jalan keluar dari krisis kebangsaan. Setidaknya ada angin segar setelah pemilu berakhir. Rakyat sebagai orang kecil yang merasakan penderitaan akibat krisis berkepanjangan berharap pemilu menjadi tonggak untuk memperbaiki kualitas hidup. Tentunya dengan ikut berpartisipasi mneyuarakan hak pilihnya. Sebab sebagian besar individu sudah memahami mana partai dan caleg yang mesti dipilih. Setelah itu mereka yang dipercaya rakyat mampu menunaikan janji-janji selama kampanye.
Jangan sampai pesta demokrasi lima tahunan yang merupakan pesta rakyat ternyata hanya miliki sebagian kelompok saja. Lalu berubah jadi pestanya para politisi. Sementara rakyat hanya dijadikan pion yang dimanfaatkan suaranya. Setelah itu rakyat kemudian dilupakan.
Sejak dimulai juli 2008 lalu, sosialisasi pemilu dengan beragam cara terus dilakukan partai-partai dan calegnya. Sebanyak 18.443 kursi pada lembaga legislatif diperebutkan oleh puluhan ribu caleg yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Mereka berkompetisi menuju gedung dewan. Kompetisi ini kemudian berubah menjadi anarki politik, sebab para calon legislatif dalam berkampanye banyak yang melakukan pelanggaran. Money politik dan pembagian sembako yang diselipi nama caleg menjadi pelanggaran yang biasa. Masih jelas dalam ingatan kita ketika sebuah tv swasta menyiarkan seorang calon anggota legislatif dari PAN membagikan uang sepuluh ribuan saat kampanye di Buton beberapa waktu lalu. Apalagi caleg yang tertangkap KPK dengan sejumlah uang yang diduga hasil suap. Tindakan yang dilakukan calon wakil rakyat seperti ini tentu saja menciderai demokrasi dan tidak memiliki penghargaan pada nilai dan etika politik. Tentu saja, apa yang terjadi ini hanya satu contoh kecil. Namun ada sebuah keyakinan jika di wilayah lain, anarkisme para politisi yang tidak menghargai etika politik bisa saja terjadi dengan modus dan cara-cara yang beragam.
Kemenangan menuju kursi parlemen adalah prestise tersendiri bagi setiap orang. Sebuah keniscayaan jika partai ataupun caleg terus berusaha memenangkan suara rakyat. Apakah dengan cara yang normatif atau melanggar etika politik.



 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic