Jelang Buka Puasa, Makassar Macet
Kini berbeda, kemacetan yang terjadi saat ini bukan karena jalan tol ditutup.Melainkan hasrat untuk segera sampai di rumah membuat para pengendara tak peduli lagi dengan aturan. Paling parah, seorang bapak mengangkat motornya ke trotoar yang memiliki tinggi ¼ meter. Bapak tua itu dengan susah payah mengangkat motor yamaha tempo dulu miliknya.
Jelang buka puasa, di beberapa sudut kota makassar memang jadi macet. Volume kendaraan tak seperti biasanya. jika beduk berbuka telah berbunyi, maka berbuka di jalanan akan jadi pilihan utama. Di saat seperti ini rupanya masih ada masyarakat yang berbaik hati. Di pinggir trotoar, mereka menaruh aqua satu dos. Jadi setiap warga yang terjebak macet bisa mammpiri di tempat itu. Berbuka Sambil menunggu jalanan sepi.
Parade ramadhan : Mencari Kedamaian
Sebetulnya agenda hari senin itu adalah menyelesaikan titah untuk segera menyelesaikan laporan pkl dan persiapan skripsi yang masih belum tersentuh. Saat bersamaan pula, seorang kawan mewanti-wanti untuk ikut kelas MEST di Gedung PKP Unhas. Menjadi orang yang bingun pun menyergap pada hati kecilku. Susah menentukan pilihan pun menghampiri. Sekali lagi saya mengadapi situasi yang membutuhkan kecermatan dalam memilih, ikut ESQ dengan tidak sebagai apa-apa, ikut MEST di Unhas dengan Sertifikat internasional, atau mulai belajar mencintai perpustakaan.
Sekali lagi kutimbang untuk memilih kemana langkah ku hari itu. Sejenak kuingat pesan seorang kawan sebuah pertemuan kemarin. Bahwasanya jangan menjadi orang yang peragu. Sebab semuanya akan terasa sulit. Takut inilah, itulah,,dll. Pada kondisi seperti ini, posisi ku memang berada satu fase dengan peragu. Sulit menentukan pilihan. Namun, nasehat kemarin membuat segenap jiwaku untuk tetap melangkah. “Ah ke ESQ saja,” bisikku dalam hati.
Setelah menyelesaikan subuh dan tadarrusan di Masjid Raya, bergegas aku ke Graha Pena. Disana sudah menunggu ratusa nmahasiswa yang siap-siap ikut training. Di gedung megah itu, aku bertemu teman lama yang sering mengingatkan. Dulu kami masih sering jalan di sudut kampus unhas. Seperti biasa dengan gaya yang semangat ia menjelaskan perkembangan training ini. Dari kampus-ke kampus telah diadakan training. Namun, mahasiswa unhas belum mendapat kesempatan ikut. Pasalnya birokrasi kampus masih belum ngeeh dan jumawa menerima training ini. Serasa malu melihat kampus lain yang bersemangat, sementara kampus kita belum tersentuh.
Satu hal yang membuat aku selalu ingin datang ke tempat itu karena Author Journey yang dilakukan senantiasa mengingatkan siapa diri kita sebenarnya. Dengan pengetahuan yang cemerlang. Pemateri memberikan tauziyah dan mengingatkan keberadaan manusia di hadapan Tuhannya. Emosional membuncah ketika sentuhan keimana kembali dipertanyakan. Betapa selama ini kita berjalan di muka bumi dengan sombong dan selalu mengejar materi duniawi. Hingga melupakan sang pemberi kehidupan.
Setiap training, aku selalu mendapati diriku berda dalam kedamaian. Sentuhan terhadap emosi membuat aku bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan ku dan spitualitas yang ada memintaku selalu melihat masa depan. ”kemanapun kau hadapkan wajahmu, disanalah Allah berada,”..
: 2,9 Juta SMS Sejam Hanya untuk Obama
Perusahaan Nielsen divisi Mobile, telah melakukan perhitungan dan memonitoring sekitar 40.000 SMS di U.S dan kemudian finalnya mencapai 2.9 juta. “Pesan mengenai calon wakil presiden ini dikirim dalam waktu satu jam pada Jumat malam, dari banyak account user yang telah mendaftar sebelumnya. Namun, metode ini telah dikritik karena tidak berguna sama sekali. Hal ini dikarenakan pers melaporkan bahwa Obama telah memilih Senator Joseph Biden of Delaware sebagai wakilnya sebelum pendukungnya memiliki kesempatan untuk menekan tombol ‘send’ demi pesan text yang penting tersebut.
“Sementara banyak yang mengkritisi, namun pemilihan wakil Obama melalui pesan text tetap menjadi pesan text yang penting untuk dikirimkan dan salah satu kesuksesan penggunaan brand media mobile.’, kata Nielsen, yang juga menambahkan bahwa terdapat 116 juta orang Amerika yang aktif menggunakan pesan text. Nielsen menjelaskan, pesan text kebanyakan berisi 26 kata dan diterima oleh 2.9 juta orang. Hal ini merupakan tips Obama untuk mempromosikan brand dirinya dan menarik perhatian public demi membuat list supporternya untuk memilihkan calon wakilnya melalui ponsel. beritanet.com
: Jenis Kepribadian Enterpreneur
Visionary, berarti membangun segala bisnisya berdasarkan visi ke depan dan penuh dengan pemikiran pendirinya. Pebisnis tipe ini akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mampu membuat perencananaa matang untuk menghindari sekecil mungkin resiko yang mengahdang. Pebisnis tipe visioner, cenderung lebih mengadalkan mimpinya sehingga sering tidak menyadari realitas yang ada. Untuk itu, pebisnis tipe ini harus ingat bahwa setiap keinginan, harusnya diwujudkan dengan tindakan yang nyata. Contoh pebisnis tipe visioner seperti Bill Gates, mantan pendiri Microsoft Inc.
Superstar, berarti seorang pebisnis yang memiliki charisma dan berenergi tinggi. Pebisnis tipe ini akan membangun perusahaan sesuai dengan brand image diri mereka. Pebisnis tipe superstar merupakan pekerja keras, atau bisa dibilang workaholic, dan cenderung sangat kompetitif. Contohnya pada Donald Trump, CEO Trump Hotel dan Casino Resort.
Healer, berarti seorang pebisnis yang kuat dan mampu bertahan dalam kondisi seberat apapun. Pebisnis tipe ini memiliki kemampuan luar biasa yang dipadu dengan ketenangan dari dalam. Pebisnis tipe healer ini merupakan seorang ‘penyembuh’, dan pebisnis tipe ini menjadi terlalu berharap hingga hampir menjauhi realita. Contohnya Ben Cohen, salah satu pendiri Ben dan Jerry Ice Cream.
Hero, pebisnis tipe ini akan memimpin dunia dan dapat melalui segala macam tantangan. Pebisnis tipe Hero dapat membuat bisnis perusahaannya menjadi besar. Pebisnis tipe ini lebih banyak mengumbar janji dan menggunakan taktik untuk mendapatkan sesuatu yang tidak akan bertahan lama. Pebisnis tipe ini seharusnya menyadari kemampuannya untuk memimpin perusahaan menuju kesuksesan. Contoh pebisnis tipe ini, Jack Welch, CEO GE.
Analyst, pebisnis tipe ini merupakan orang yang hebat dalam mengatasi masalah. Pebisnis tipe ini akan menyelesaikan masalah dengsecara sistematis, dan berbasis ilmu pengetahuan atau keahlian teknis. Pebisnis dengan tipe ini harus berhati-hati ketika mengalami kebuntua analisa, dan mungkin bisa mempercayai kemampuan orang lain untuk membantunya. Contohnya Gordon Moore, pendiri Intel.
Artist, pebisnis tipe ini memiliki kreativitas tinggi, dan biasanya ditemukan di perusahaan periklanan, desain, dan sebagainya. Namun, pebisnis tipe ini suka menyendiri seperti layaknya penyuk seni lainnya, dan cukup sensitive dengan respon pelanggannya. Contohnya Scott Adams, pendiri Dilbert.
Fireball, pebisnis tipe ini akan selalu bersemangat dan hidup dalam keoptimisan. Pebisnis tipe ini selain enerjik dengan perilaku yang menyenangkan, namun juga cenderung memiliki komitmen berlebihan sehingga menjadi terlalu impulsive. Contohnya Malcolm Forbes, pendiri Forbes Magazine.
Improver, pebisnis tipe ini akan menonjolkan kemampuannya yang suka memperbaiki. Sifat Improver membuat pebisnis menjadi lebih kokoh dan memiliki integritas tinggi dalam menjalankan bisninsnya. Namun, pebisnis tipe ini cenderung perfeksionis dan terlalu kritis terhadapa pelanggan. Contohnya Anita Roddick, pendiri The Body Shop.
Advisor, pebisnis tipe ini lebih suka menyumbangkan saran dan ide tingkat tinggi bagi pelanggannya. Pebisnis tipe ini akan melakukan apa saja untuk menyenangkan pelanggan karena pelanggan dianggapnya aalah raja. Namun, pebisnis tipe ini malah terlalu focus dengan pelanggannya, sehingga lebih sering mengabaikan kebutuhan mereka sendiri sebagai entrepreneur, dan bahkan mereka bisa kelelahan sendiri jika harus memuaskan semua pelanggan. Contohnya John W. Nordstrom, pendiri Nordstor--beritanet.com
Mengapa Perlu Ada HARI TANPA TV??
Bayangkan kalau anak-anak kita adalah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, pertanyaan-pertanyaan yang ‘di luar dugaan’ dan sebagainya.
Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV. Namun jutaan orangtua di Indonesia pada umumnya cemas dan khawatir dengan isi siaran TV kita. Kalangan industri televisi punya argumentasi sendiri mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak memperhatikan kepentingan anak dan remaja. Intinya, kepentingan bisnis telah sangat mengalahkan dan menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai pasar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Dan ketahuilah, meski stasiun TV sudah mulai memperbaiki isi siaran mereka, namun hal itu tetap tidak bisa menghilangkan kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi ‘makanan’ yang merusak jiwa puluhan juta anak Indonesia.
Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya. Sehingga, tidak ada pilihan lain kecuali individu sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi kita, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang besar.
Untuk itulah perlu ada gerakan HARI TANPA TV pada tanggal 23 Juli 2006 yang akan membuktikan bahwa apabila masyarakat bisa bersatu melakukan penolakan terhadap perilaku industri televisi, maka sejak saat itulah kita bisa berharap ada perbaikan. Jadi, berikanlah dukungan dan bergabunglah untuk mengikuti HARI TANPA TV. Pada hari itu, matikan TV selama sehari dan ajaklah anak-anak untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.
diposting dari kidia.org
UANG
Dalam tinjauan historis, pada mulanya uang adalah benda yang dipakai dalam proses pertukaran. Hal ini muncul setelah adanya kesulitan yang dialami oleh nenek moyang dalam barter, yaitu susahnya mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Inilah yang mendorong manusia menciptakan kemudahan dalam pertukaran. Maka ditetapkanlah benda-benda tertetu sebagai alat tukar. Misalnya bangsa Romawi menetapkan garam sebagai alat tukar atau Inggris yang menyebut upah sebagai Salari yang berasal dari bahasa latih Salarium (garam).
Zaman pun makin berkembang, pertukaran barang dan jasa menuntut adanya benda yang lebih praktis lagi, disepakatilah uang sebagai alat tukar, meski tiap negara memiliki perbedaan dalam nilai alat tukar itu.
Kini, uang bukan hanya sebagai alat tukar, tapi merupakan sebuah alat yang bisa ‘membeli’ apa saja. Bahkan sebagian orang mengganggap uang bisa menggadaikan idealisme. Apatah lagi mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya. Masyarakat kini makin terbuai oleh uang. Lebih radikal lagi sampai ada yang memuja-muja benda itu, hingga ungkapan uang sebagai “Tuhan” baru tak asing lagi kita dengar.
Masyarakat
***
Dalam konteks pendidikan, uang memiliki pengaruh yang cukup besar. Betapa tidak, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi terjadi ‘pungutan’. Akibatnya yang mampu menikmati pendidikan hanya golongan yang berpenghasilan menegah ke atas saja. Sedangkan yang penghasilannya rendah, jangan harap! Pun kalau ada, pendidikan yang ditawarkan adalah yang kualitasnya paling rendah. Sedangkan yang punya banyak uang, akan menikmati pelayanan pendidikan yang yahud.
Tuhan baru itu juga telah memasuki ranah kampus ini, adanya praktik “pungutan” di beberapa fakultas dapat jadi indikator. Adapula mahasiswa yang hanya membayar puluhan ribu untuk meluluskan mata kulianya. Ini pulalah yang membuat guru besar dan sejumlah birokrat Unhas berurusan dengan pihak berwajib. Prilaku dosen yang lebih mementingkan urusan proyek daripada mengajar, juga dipengaruhi oleh upaya menumpuk pundit-pundi ini. Walhasil, sarjana yang jumlahnya ribuan tiap tahun bisa jadi kapasitasnya ‘karbitan’.
Belakangan ini komersialisasi fasilitas kampus yang terjadi juga berujung pada uang. Ironisnya lembaga mahasiswa tak memiliki penghasilan untuk menyewa gedung di rumah sendiri. Jadi jangan heran jika mahasiswa memilih mencari tempat yang murah di luar kampus untuk pengkaderan.
Uang memang bisa membutakan hati, membuat segalanya jadi tak bermakna. Namun, haruskah kita terjebak dalam kemewahan yang ditawarkan oleh tuhan baru ini.
| |
| |
| |
SARJANA
Hari itu ratusan sarjana lulusan strata satu dan diploma tiga Unhas sedang diwisuda. Wajah-wajah mereka terlihat cerah, terseyum sumringah, sembari mengangkat toga merayakan ‘kemenagan’. Kemenangan yang sudah dinanti selama bertahun-tahun. Yang pasti melewatinya penuh dengan perjuangan.
Menjadi sarjana merupakan impian setiap mahasiswa, ada haru yang terendap saat nama kita disebut dalam rapat senat luar biasa tersebut. Tepukan tangan dan sorak seisi gedung menggema, apalagi jika berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik.
Euforia kemenangan itu lambat laun akan sirna, sebab rupanya ada risau yang menunggu. Cemas dan takut tak lagi menyandang berpredikat sebagai mahasiswa. Pasalnya setelah ini apa lagi yang mesti dilakukan. Bagi sebagian orang, keharusan menjadi sarjana merupakan berkah dan prestise tertinggi dalam hidupnya, namun sebagian lain menganggap ini adalah mimpi buruk. Apatah lagi kalau bukan karena takut jadi bagian dari sarjana pengangguran.
***
Sampai tahun ini, Unhas sebagai lokus pendidikan di Indonesia Timur telah berhasil meluluskan kurang lebih 80 ribu mahasiswa strata satunya. Lulusan-lulusan tersebut sebagian besar telah jadi ‘orang’. Mereka tersebar di seluruh negeri ini. Hal ini terungkap saat reuni 50 tahun Unhas lalu. Beragam kerja yang dilakoni, ada yang sesuai dengan disiplin ilmunya, ada pula yang tak sesuai dengan disiplin ilmunya.
Namun, kita tak mesti berbangga, sebab Unhas juga merupakan salah satu penyumbang tingginya angka pengangguran di negeri ini. Tercatat dari tahun 1997 sampai 2007 pengangguran yang berkisar hanya 4.18 juta melonjak menjadi 11 juta. Kemudian ini diperparah dengan krisis ekonomi yang terjadi, dimana pemerintah tak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi penganguran tersebut.
Jika kita melihat lebih jauh, lulusan-lulusan kampus ini rupanya tak mampu bersaing dengan sarjana dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah mada, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung. Kualitas lulusan universitas terkemuka di Jawa ini masih setingkat di atas Unhas. Walhasil, kalah bersaing jadi kendala menghadapi dunia kerja. Universitas tak sepenuhnya dipersalahkan. Pasalnya universitas bukan politeknik, atau institut kejuruan yang memang mengajarkan sampai hal-hal yang teknis. Namun, lebih pada penguatan kapasitas building melalui pendidikan, penelitian sampai pada taraf pengabdian masyarakat.
Yang jadi masalah, rupanya resources kampus ini belum mampu dikelola dengan baik, hingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Overloaded (kelebihan mahasiswa) juga merupakan salah satu faktor. Bayangkan saja, Unhas yang dirancang menampung kurang lebih 15 ribu mahasiswa saja, malah naik jadi 30 ribu mahasiswa. Akhirnya suasana belajar yang diharapkan kondusif jauh dari impian.
***
Jumlah pengangguran ( individu yang tak punya pekerjaan atau sumber pendapata yang tetap) yang terus meningkat menimbulkan kehawatiran akan adanya lost generation. Tahun ini, Unhas mencoba berperan dengan merancang Unit Pelaksana Teknis Joblessment. Ini disediakan bagi para alumni untuk mempermudah akses mencari kerja. Selain itu, juga ada pelatihan atau kursus singkat peningkatan kapasitas. Namun, sepenuhnya kita tak berharap banyak pada UPT ini. Namun, ada secercah harapan buat para alumni baru. Setidaknya mimpi buruk jadi sarjana pengguran bisa sedikit terobati. Kita akan senantiasa setia menunggu Unhas mampu menghasilkan alumni yang mampu bersaing di tingkat global.
salam mao- yang masih mahasiswa
