DUKA DI AKHIR TAHUN





Tahun baru Islam yang sebentar lagi digelar. Mestinya hari itu dijadikan sebagai hari yang penuh dengan kedamaian. Namun, Israel mengacaukan hari itu. Ancaman dan serangan membabi buta ditujukan pada rakyat Palestina, anak kecil, ibu-ibu yang tak berdosa dijadikan bangsa Israel sebagai bahan latihan menembak tentara zionos tersebut. Sungguh kejam.


seperti kata Presiden Iran , Israel telah memasuku upaya menghapus etnis Palestina dari muka bumi. Padahal Palestina adalah bangsa yang lebih dahulu mendiami tempat itu. tetapi keangkuhan Isrel yang tiba-tiba mencaplok lokasi milik warga muslim. Jadilah mereka tergusur dari negerinya.

Tiap kali kita dengar tentara Israel menembaki waega sipil dananak-anak yang tak berdosa. kemarin saja, sudah lebih 220 orang meninggal dunia akibat serangan israel tersebut. Belum lagi yang mengalami trauma akibat serangan tersebut. Sungguh biadab. Lalu apa yang kita lakukan, mari kita berjuang membebaskan Palestina dari Zionis Israel.

Hamas Menyerukan Intifada Ketiga

Dua hari ini berita tentang Israel yang menyerang dan menghancurkan jalur Gaza (Palestina) terus menjadi sorotan. Dunia Internasional mengecam tindakan Israel ini. Sementara Amerika kembali bermuka dua. Awalnya mendukung Penyerangan israel tersebut, namun juga menyayangkan adanya korban jiwa. sebuah hal yang inkonsistensi. Dalam siaran Persnya Ahmadinejad menyerukan agar Palestina dibantu. presiden Iran itu mmengirmkan Kapal berisi tenaga medis dan obat-obatan (bulan Sabit Merah) ke tanah suci tersebut. itulah sekilas liputan yang aku saksikan di sebuah berita sore tadi. untuk lebih jelasnya, berita dibawah ini penting untuk dibaca.

"Kebiadaban Israel makin menjadi-jadi, hari ini, rezim Zionis kembali mengerahkan pasukannya untuk membombardir Jalur Gaza. Sementara korban serangan brutal Israel sepanjang hari Sabtu kemarin mencapai 230 warga Palestina yang gugur syahid dan 800 orang lainnya luka-luka.

Israel memulai kembali serangannya ke selatan Gaza pada Minggu pagi dengan target serangan ke berbagai tempat termasuk sebuah masjid, stasiun televisi dan sebuah truk bahan bakar yang sedang melaju di luar kota Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir.


Radio Hamas melaporkan, sejumlah warga Gaza gugur syahid dan luka-luka, namun petugas medis di Gaza belum bisa memastikan berapa jumlah korban dalam serangan Israel hari kedua ini.

Pada Sabtu siang Israel memulai serangannya ke Gaza dengan 30 kali serangan, dilanjutkan pada malam hari sebanyak 20 kali serangan, salah satunya serangan ke sebuah masjid di kawasan Rimal, Jalur Gaza dan ke stasiun televisi al-Aqsa. Karena gedung stasiun televisi itu hancur, TV al-Aqsa mengudara dengan menggunakan moil unit siaran luar.

Meski sudah membantai lebih dari 200 warga sipil di Gaza, Menhan Israel Ehud Barak menyatakan Israel masih akan melanjutkan serangannya ke Gaza dan kemungkinan akan melakukan serangan yang lebih hebat lewat darat.

"Kami siap melakukan apa saja. Kami merasa penting untuk mengerahkan pula pasukan darat untuk melindungi warga kami," kata Barak. Untuk itu, menurut laporan tv-tv Israel, pasukan darat Zionis sudah disiagakan di perbatasan Gaza.

Barak menolak seruan dunia internasional untuk melakukan gencatan senjata. Ia mengatakan, meminta Israel untuk kembali melakukan gencatan senjata dengan Hamas, sama seperti meminta AS untuk melakukan gencatan senjata dengan al-Qaeda. "Kami tidak bisa menerimanya," tukas Barak.

Pimpinan Hamas di Gaza, Ismail Haniyah menyebut agresi Israel ke Gaza sebagai "pembantaian terburuk". Haniyah menyerukan agar seluruh rakyat Palestina bersatu dan bahu membahu melawan kejahatan Israel. Sementara, Kepala Biro Politik Hamas yang saat ini dalam pengasingan di Suriah, Khalid Mishaal dalam wawancara dengan Al-Jazeera menyerukan gerakan Intifada ketiga untuk melawan kebrutalan Israel.

"Perlawanan akan terus berlanjut lewat misi-misi bunuh diri," kata Mishaal.

Situasi di Gaza membara. Untuk membalas serangan brutal Israel, pejuang-pejuang Palestina di Gaza menembakkan sekitar 50 roketnya ke wilayah Israel pada Sabtu kemarin. Hamas mengancam akan menembakkan ratusan roketnya sebagai respon atas serangan brutal Israel. (ln/prtv/aljz) (http://eramuslim.com/berita/palestina)

Dunia Kutuk Serangan Israel ke Jalur Gaza

Sejumlah negara langsung bereaksi melihat serangan brutal rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza. Uni Eropa, Rusia Perancis mendesak Israel untuk menghentikan serangannya. Inggris menyatakan keprihatinannya, sedangkan AS meminta Israel agar menghindari jatuhnya korban di kalangan warga sipil di Gaza.
"Rusia meyakini, pentingnya menghentikan segera serangan luas ke Jalur Gaza yang telah menimbulkan banyak korban jiwa dan penderitaan bagi rakyat Palestina," kata Menlu Rusia dalam pernyataannya hari Sabtu (27/12).



Di Prancis, Presiden Nicolas Sarkozy mendesak Israel untuk menghentikan pengerahan pesawat-pesawat tempurnya yang telah membombardir markas-markas Hamas dan kantor-kantor polisi di Gaza. Meski demikian, Sarkozy dalam pernyataannya terkesan menyalahkan Hamas sebagai biang keladi atas serangan Israel ini.
"Presiden Prancis mengungkapkan keprihatinan yang dalam atas eskalasi kekerasan di selatan Israel dan di Jalur Gaza. Ia mengutuk keras provokasi yang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan situasi ini terjadi dan penggunaan kekerasan yang berlebihan," demikian pernyataan yang dirilis kantor Sarkozy.
Sementara dari dunia Arab, pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang pertama kali melontarkan kecaman atas serangan brutal Zionis Israel ke Jalur Gaza. Ia menyerukan dunia Arab mengambil sikap tegas terhadap Israel dan mendesak agar perbatasan-perbatasan di Gaza dibuka.
Sementara itu, helikopter-helikopter Israel masih melayang-layang diatas wilayah Gaza setelah membantai lebih dari 180 warga Gaza. Dipekirakan jumlah warga Gaza yang gugur syahid akan bertambah karena masih ada ratusan orang yang mengalami luka-luka berat dan ringan.
Pada saat yang sama, militer Israel menyatakan masih akan melakukan operasi militer lagi ke Gaza dan kemungkinan serangan yang akan dilakukan lebih besar dari serangan hari ini. Israel menargetkan serangannya ke utara dan selatan Gaza, terutama kota Khan Younis dan Rafah yang diklaim sebagai basis utama Hamas.
BBC melaporkan, rumah-rumah sakit di Gaza penuh dengan para korban. Padahal rumah-rumah sakit itu tidak memiliki banyak persediaan obat-obatan akibat blokade Israel ke Jalur Gaza. Sedangkan masjid-masjid di Gaza melalui pengeras suara menghimbau warga Gaza yang selamat untuk mendonorkan darahnya guna membantu para korban luka.
Duka Gaza adalah duka bagi umat Islam sedunia. Menjelang tahun baru umat Islam, saudara-saudara kita dizalimi oleh rezim ilegal Zionis Israel. Selayaknya kita memanjatkan doa buat warga Gaza dan merenungkan kembali seberapa jauh kita mengingat penderitaan saudara seiman kita di Jalur Gaza. (ln/iol/prtv/aljazeera, www.eramuslim.com)



Serangan Brutal Israel ke Gaza, Ratusan Warga Palestina Syahid dan Luka-Luka

Menjelang tahun baru Islam, umat Islam berduka. Rezim Zionis Israel hari ini, Sabtu (27/12) melakukan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Rezim penjajah itu mengerahkan pesawat-pesawat tempur jenis F-16 dan helikopter-helikopter Apache-nya dan membantai warga Gaza yang sudah tak berdaya setelah selama setahun lebih diblokade oleh Israel.
Laporan Press TV menyebutkan, akibat serangan brutal itu, dalam waktu singkat 180 warga Palestina di Gaza gugur syahid dan 800 orang lainnya luka-luka. Cuplikan tayangan televisi memperlihatkan jenazah para korban yang terdiri dari anak-anak, laki-laki dan perempuan bergelimpangan di jalan-jalan Gaza. Radio Hamas melaporkan, diantara korban yang gugur adalah kepala polisi Gaza, Tawfiq Jabber.



Pesawat-pesawat tempur dan helikopter Israel sedikitnya melakukan serangan sebanyak 30 kali secara simultan dengan target sekitar 30 tempat di kota Gaza, yang diklaim Israel sebagai basis Hamas. Selain serangan udara, tank-tank Israel juga mendekati wilayah Jalur Gaza.
Tak peduli rakyat Palestina menjadi korban, otoritas Zionis Israel menyatakan akan terus melakukan serangan Gaza. Juru bicara militer Israel Avi Benayahu mengatakan bahwa serangan hari ini baru awal dari operasi militer ke Gaza, yang merupakan keputusan dari para menteri pertahanan dan keamanan Israel.
"Serangan akan dilakukan beberapa waktu. Kami tidak menentukan sampai kapan serangan ini akan dilancarkan dan kami bertindak berdasarkan situasi di lapangan," kata Avi.
Serangan Zionis Israel sempat membuat panik warga Gaza yang menolak menarik dukungan mereka terhadap Hamas. Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert meminta agar warga Gaza untuk menghentikan tembakan-tembakan mortir Hamas ke wilayah Israel.
Juru Bicara Hamas Fawzi Barhoum mengatakan, Israel melakukan serangan ke Jalur Gaza setelah mendapat restu dari negara-negara sekutunya. Seminggu yang lalu, Israel memang menyatakan akan meminta dukungan internasional agar bisa menyerang Gaza. Israel juga menegaskan akan melakukan berbagai upaya untuk menumbangkan Hamas di Jalur Gaza. Tapi kenyataannya, serangan Israel menyebabkan banyak warga Gaza tak berdosa yang menjadi korban.
Barhoum menyebut serangan itu sebagai pembantaian bukan hanya terhadap anggota Hamas tapi juga terhadap rakyat Palestina. Ia menyesalkan sikap negara-negara Arab yang selama ini buta dan tuli atas penindasan Israel terhadap warga Gaza.
"Serangan ini terjadi karena negara-negara Arab bersikap diam dan karena Israel mendapat lampu hijau dari AS dan Eropa," tukas Barhoum.
Ia menegaskan bahwa Hamas akan membalas serangan Israel ini. "Serangan ini tidak akan melemahkan atau menumbangkan pemerintahan Hamas di Gaza. Semua opsi terbuka untuk merespon serangan ini," tandas Barhoum.
Hal serupa ditegaskan salah satu pemimpin Hamas, Mousa Abu Marzouz. Ia mengatakan, Israel mengarahkan serangannya ke pos-pos polisi dan kantor-kantor di Gaza. Ia menyerukan dunia internasional untuk mengecam serangan Israel.
"Tak seorang pun di dunia ini yang bisa membenarkan agresi Israel ke Gaza. Pasukan Hamas akan membalasnya, pasukan Hamas akan membela rakyat Palestina," tukas Marzouz.
Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Tepi Barat menyatakan mengutuk agresi Israel ke Jalur Gaza. (ln/berbagai sumber. www.eramuslim.com).



TERIMA KASIH (BAGIAN II)

Pengirim sms itu ternyata anak Unhas juga. Meskipun masih satu kampus, namun beda fakultas.Aku tak pernah bertemu dengan sang pengirim pesan singkat tersebut. Mengenalnya pun hanya sekadar nama. Sementara melihat wujudnya juga baru dua kali. Itu pun sekilas. “Pesan ini mungkin salah kirim, mungkin saja sms nyasar,” gumamku. Lalu, pesan tadi kukirim kembali dan kutambahi kata "maaf", mungkin salah kirim. Tak lama kemudian, ponsel itu kembali berdering, sebuah pesan masuk “ Gak salah kok. Sudah benar, ini nomornya ismawan kan,? Aku terdiam, perasaan bingung datang menghampiri. “Betul, kok mengucapkan terima kasih, saya merasa belum pernah berbuat kebaikan, tak pantas diberi ucapan terima kasih,salah kirim mungkin,” sms balasan terkirim. Tak lama kemudian, Ia menjawab lagi dengan pesan yang membuatku memandangi satu persatu kata yang menyusun kalimat tersebut. ” Terkadang memang orang tak merasa berbuat kebaikan, tapi ternyata ‘iya’ meskipun tak secara langsung,”. Pesan terakhir ini berkali-kali kubaca. Sarat makna dan cukup membuat galau perasaanku. Betapa mirisnya aku mencari kebaikan yang telah diperbuat. Mungkin saja aku tak bersyukur sesuai pesan dalam Alqur’an “ Sangat sedikit dari hambaku yang bersyukur ” (saba : 13). Setelah pesan itu, aku merasa bersalah dan kemudian minta maaf.


Saat malam datang, kisah sms pagi tadi tak mau beranjak. Selalu saja datang memintaku menggunakan taksonomi bertanya apa gerangan sampai mengucapkan terima kasih. ah, daripada saya terus diganggu pesan itu, apa salahnya menanyakan kembali. ”Sebenarnya dari tadi aku masih selalu bertanya, apa gerangan yang membuat berterima kasih. Setiap kali ingin melupakannya, dominasi untuk memikirkannya lebih besar,”. Selang beberapa menit, Ia membalas ”Sebenarnya, aku tak suka membuat orang penasaran, tapi apa penting kamu tahu? Mungkin aku salah mengirim pesan terima kasih itu. Jadi kamu berpikit terus. Tapi intinya kamu telah berbuat kebaikan pada ku. That’s all,”. Membaca pesan itu, aku tak mampu berkata-kata, akhirnya aku mengalah. Untuk menjawab sms terakhir itu aku mengirim pesan” Sudahlah, maafkan aku yang banyak tanya, biarlah ini menjadi misteri,”
Setelah pesan terakhir itu, tak ada lagi pesan yang datang, semuanya tiba-tiba mengendap dan bersembunyi seperti air di bawah bongkahan es yang beku di kutub. Hari itu, sebuah pelajaran sarat makna datang menghampiri. Lalu, kepada siapa aku mesti berterima kasih. atau sebenarnya siapa yang mesti mengucapkan kata itu . Dadaku sesak, batinku ingin berbisik ”sampaikanlah rasa terima kasih pada orang yang jauh di suatu tempat itu, selagi masih bisa,”

Iran corner, desember 2008




TERIMA KASIH (Bagian I)

(Kisah Suatu Pagi di Bulan Desember)

Sehari setelah aksi demonstrasi mahasiswa yang berakhir bentrokan dengan polisi di depan pintu satu Unhas. Media lokal, nasional terus memberitakan aksi yang menelan korban dari pihak mahasiswa ini. Polisi yang mestinya mengayomi masyarakat malah bertindak brutal dan anarkis. Mahasiswa dipukuli, diinjak dan dibuat babak belur dengan pentungan yang mereka miliki. Peristiwa hari itu memang menjadi catatan tersendiri yang membuat Unhas jadi kelabu. Duah hari sebelumnya, mahasiswa juga dibuat berlarian saat aparat penegak hukum ini menyerang mahasiswa.Tujuh mahasiswa ditangkap hari itu .Sementara yang lain mampu meloloskan diri dari kejaran petugas yang sampai ke dalam kampus.
Namun, peristiwa hari kedua tak kalah brutal, seorang abang yang kerja sebagai journalist di televisi swasta sempat berujar jika saja saat itu tak ada rektor Unhas, maka peristiw UMI jilid II bisa saja terjadi. Pasalnya saat itu 400 polisi sudah siap ”menyerang” mahasiswa dengan pentungan dan senjata lengkap hingga ke dalam kelas. Sepertinya emosi polisi sudah sampai pada ubun-ubun, makanya salah satu cara melampiaskan semua itu dengan membuat ’’jera’’ para mahasiswa yang sering turun aksi.

Sejak pagi, aku masih duduk di beranda sebuh penerbitan kampus. Orang-orang mengenalnya dengan nama identitas. Sendiri di tempat itu membuatku lebih leluasa membaca koran yang menyajikan lebih rinci kejadian hari kemarin. Sebagian kawan-kawanku masih ada yang terbuai dengan mimpi. Aku menyadari jika sebagian dari mereka masih lelah setelah kemarin sibuk meliput aksi polisi lawan mahasiswa. Pada malam hari, tulisannya mesti sudah dibuat agar fell nya masih bisa lebih terasa. Narasinya yang dalam dan deskripsinya lebih rinci.

Langit di luar masih belum bersahabat. Hujan yang sedari subuh turun belum juga berhenti. Sesekali angin bertiup hingga hawa dinginnya menusuk tulang. Tanaman yang sejak lama menunggu hujan turun nampak gembira. Senyum sungringah terpancar dari helai daun yang diam. Namun dalam diam, semunya terasa bermakna. Begitu kata temanku suatu ketika. Tak lama berselang, tiba-tiba ponsel nokia yang aku letakkan di atas meja berdering. Rupanya sebuah pesan masuk. Aku sengaja menunggu hingga nada deringya selesai. Pasalnya, setiap mendengar nada dering pesan yang aku format, selalu muncul perasaan damai dan kesejukan. Niat untuk membukanya masih berat. Pagi-pagi begini siapa pula yang mengirim sms. ”Ah nanti sajalah,” gumamku. Tapi rasa ingin tahu yang begitu besar mengurungkan niatku untuk membukanya. Di balik layar ponsel itu kudapati seorang mengirim dua rangkaian kata yang cukup singkat. Jazakallah khoir yang artinya terima kasih banyak. Aku berhenti membaca, perhatianku sepenuhnya kutujukan pada pesan singkat itu. Rupanya Ia mampu merusak konsentrasiku melanjutkan bacaan. ”Siapa pula yang mengirim sms ini,” ujarku. Aku mencoba mengembalikan ingatanku ke masa lalu, imajinasiku melayang menelusiri labirin yang tak berujung, sehari kemarin, dua hari , tiga hari , empat hari , hingga jauh di masa lalu. Aku tak menemukan serpihan yang mampu membuat kata itu jadi utuh. Tak ada bayangan sama sekali. Ataukah aku memang menderita penyakit amnesia (terganggunya daya ingat yang diakibatkan oleh kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan, biasanya yang bersifat sedatif).
Bersambung..

BHP DISAHKAN, PEMERINTAH JUAL PENDIDIKAN



Mahalnya anggaran yang mesti dibayar oleh rakyat karena subsidi pemerintah ke kampus sudah berkurang. Model seperti ini dikenal dengan Badan Hukum Milik Negara (BHMN), pihak universitas dituntut mencari biaya untuk mengelola pendidikannyaUpaya mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) akhirnya sampai pada tahap akhir. Hari Rabu, (17/12) DPR RI mengadakan rapar paripurna mengesahkan RUU tersebut.
Sehari sebelumnya, aksi mahasiswa Unhas yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Makassar Tolak BHP di depan pintu satu Unhas berakhir dengan bentrokan. Polisi menyerbu mahasiswa hingga ke dalam kampus setelah sebelumnya terjadi aksi saling lempar.
Untung saja tidak ada korban jiwa di antara kedua pihak. Hari Rabu (12/12) mahasiswa kembali turun ke jalan menyuarakan penolakan terhadap pengesahan RUU BHP tersebut. Begitu pula dengan sejumlah mahasiswa di Jakarta yang menggelar aksi penolakan di depan pintu gerbang DPR RI.




Apa yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan Presiden SBY yang tidak memiliki itikad baik memajukan dunia pendidikan.
Martin Cornoy (1982) beranggapan jika negara memiliki peran dalam setiap kebijakan pendidikan dan merupakan hal terpenting dalam kehidupan berbangsa. Narasi membangun pendidikan yang dicanangkan sejak tahun 1971 rupanya tak mampu mengangkat derajat bangsa ini.
Alih-alih untuk keluar dari persoalan bangsa, persoalan pendidikan makin menumpuk saja. Ibaratnya bola salju, masalah datang silih berganti dan tak pernah selesai.
Semangat membangun pendidikan sebagai pondasi bangsa ini telah dimulai oleh tokoh bangsa ini di masa lalu. Bapak Bangsa, Ir Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara telah merintis jalan agar bangsa ini keluar dari penjajahan yang dilakukan bangsa asing.
Fase perlawanan terhadap kolonialisme menjadi bagian penting untuk keluar dari keterpurukan. Olehnya itu, bangsa ini memerlukan manusia-manusia yang cakap dan mampu bersuara terhadap setiap penjajahan. Salah satu jalan yang ditempuh adalah memperbaiki sumber daya anak bangsa melalui pendidikan.
Masih jelas dalam benak kita, dahulu para pemuda berupaya menempuh pendidikan di sekolah milik Belanda, atau pun berangkat ke luar negeri. Dengan harapan setelah kembali mampu membangun dan mengeluarkan negeri ini dari cengkraman penjajah.
Tanda Tanya
Jadi, pendidikan memang merupakan satu bidang yang paling penting dalam mengeluarkan negeri ini dari keterpurukan, memajukan dan mengangkat harkat dan martabat sebuah bangsa. Mungkin saja negeri ini tak akan pernah merdeka dan keluar dari penjajahan kolonialisme jika tak dipimpin oleh tokoh yang memang telah terdidik.
Begitulah sejatinya pendidikan, menciptakan manusia yang berkualitas, humanis, bermoral dan mampu mengangkat citra bangsa ini. Sementara itu, negara memiliki tanggung jawab melahirkan generasi yang handal.
Dengan kata lain, negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai dengan amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 45. Sama halnya dengan pasal 31 UUD 45, pendidikan sejati adalah hak setiap warga negara dari Sabang sampai Merauke dan pemerintah wajib membiayainya. Membayangkan anak negeri ini menikmati pendidikan yang layak merupakan sebuah mimpi yang sempurna. Lahirnya manusia-manusia yang cendekia, intelektual, kritis dan memiliki kualitas pengetahuan mungkin hanya sebatas mimpi.
Pasalnya pemerintah sebagai pengelola negara sepertinya tak pernah serius mengurus dunia pendidikan. Setiap saat, siaran televisi memberitakan gedung sekolah yang hancur ataupun roboh.
Bagaimana dengan penduduk yang tinggal di wilayah kepulauan ataupun pelosok desa. Sehari-hari mereka kehilangan guru. Jarak yang jauh membuat pemerintah enggan mengurus anak bangsanya. Keberpihakan pemerintah terhadap memajukan pendidikan masih tanda tanya besar. Misalnya saja, persoalan anggaran pendidikan. Alokasi biaya pendidikan APBN Indonesia mestinya 20 persen sesuai amanat UUD 1945 ternyata hanya sebesar 7,9 persen sedangkan negara lain seperti Thailand (20,1 persen), Iran (17,8 persen), Filipina (15,7 persen), Malaysia (15,4 persen) Cina (12,2 persen), dan Srilanka (8,9 persen).
Bahkan, negara dunia ketiga yang senasib dengan Indonesia seperti Kuba, Venezuela, dan Bolivia berani untuk menggratiskan biaya pendidikan bagi rakyatnya. Amat berbeda dengan negeri ini yang malah pendidikannya dibayar mahal.
Realitas hari ini pun makin menunjukkan bahwa pemerintah lebih memilih untuk menandatangani General Agreementon Trade in Services (GATS) pada perjanjian Organisation World Trade (WTO). Sebuah perjanjian yang berupaya menghilangkan peran negara terhadap bidang jasa, salah satunya adalah pendidikan.
Melainkan memberikan peran terhadap setiap warga negara membiayai pendidikannya. Inilah awal dari skenario pemerintah menjual pendidikan.
Beranjak dari persoalan tersebut, sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa pendidikan kini telah menjadi barang yang bisa diperjualbelikan. Sementara pemerintah secara perlahan-lahan berupaya melepaskan tanggung awab terhadap dunia pendidikan dan menyerahkan ke pihak swasta.
Jika demikian, dapat kita katakan bahwa pendidikan juga akan terkait dengan kepentingan-kepentingan politik, ekonomi para pemegang kekuasaan negara.
Jauh hari sebelumnya, Paulo Freire telah mengingatkan jika pendidikan merupakan proses pembebasan bagi negara dunia ketiga dari keterkungkungan kapitalisme. Namun, hal itu tidak berlaku bagi negeri ini.
Pendidikan yang memanusiakan manusia berubah menjadi pendidikan yang berorientasi kepada pasar dan kepentingan pemodal. Cengkraman kapitalisme global yang tak mampu dibendung membuat pemerintah tak bisa berbuat banyak.
Apalagi Political will pemerintah memang tak jelas menangani dunia pendidikan, hal inilah yang semakin membuat kita prihatin terhadap keseriusan pemerintah memperbaiki pendidikan Pada kondisi seperti ini mestinya biaya pendidikan tidak lagi dibebankan kepada rakyat. Pasalnya, krisis ekonomi yang terjadi membuat jumlah rakyat miskin menjadi semakin bertambah.
Bank Dunia merilis penduduk miskin di Indonesia tetap di atas 100 juta orang atau 42,6 persen dari jumlah penduduk 236,4 juta jiwa pada tahun 2007. Rakyat dibuat semakin tak berdaya.
Apalagi diperparah dengan semakin tingginya harga jual kursi jika masuk ke sebuah universitas ternama. Perguruan tinggi negeri semisal UI, UGM, ITB, IPB, mewajibkan setiap calon mahasiswa membayar sejumlah biaya pengelolaan kampus, mulai dari Rp 25 juta sampai Rp 125 juta. Bahkan, bangku kuliah di Fakultas Kedokteran UGM bisa mencapai Rp 300 - Rp 400 juta per kursi.
Mahalnya anggaran yang mesti dibayar oleh rakyat tersebut karena subsidi pemerintah ke kampus sudah berkurang. Model seperti ini dikenal dengan Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dimana pihak universitas dituntut mencari biaya untuk mengelola pendidikannya.
Tak berhenti sampai di situ, rencana perubahan BHMN menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP) semakin memperkuat keinginan pemerintah meliberalisasi pendidikan. Inilah yang kemudian membuat universitas negeri juga berlomba-lomba melakukan transisi menuju BHP.
Dengan asumsi jika subsidi pemerintah tak ada lagi, pendapatan universitas bisa diambil dari masyarakat. Kondisi ini menuntut pimpinan universitas melego kursi hingga ratusan juta rupiah.
Ini bukan lagi isu, fakta yang terjadi di lapangan membuat pemerhati bangsa ini mesti berpikir untuk mencegah liberalisasi pendidikan ini. Hal ini kemudian didukung oleh kebijakan pemerintah yang mensyahkan peraturan presiden nomor 77 tahun 2007 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal.
Dalam pepres tersebut nampak secara jelas jika pendidikan merupakan jenis bidang usaha yang terbuka untuk investasi modal asing dengan ketentuan kepemilikan modal asing sampai 49 persen. Mungkin pemerintah memang bersikap inlander (budak kekuasaan) yang berselingkuh dengan kapitalisme.
Persoalan pendidikan mahal tak hanya terjadi pada setiap perguruan tinggi saja. Melainkan telah merambah dunia siswa (SD, SMP, SMA). Pihak sekolah juga membebankan biaya kepada masyarakat. Dengan dalih untuk perawatan gedung, seragam sekolah, buku pelajaran, hingga uang perpisahan.
Secara nyata memang tidak terlihat jelas, namun modusnya diperhalus dengan meminta kerelaan orang tua memberi sumbangan pada sekolah. Tentunya dengan standar minimal. Pada kondisi ini orang tua akan merasa bimbang. Pasalnya jika tidak dibayar, kemungkinan anaknya susah untuk diterima. Sebab, yang paling tinggi memberikan sumbangan akan diprioritaskan.
Lalu bagaimana nasib anak miskin mengeyam pendidikan. Sementara mereka tak mampu membayar tingginya biaya di sekolah negeri. Apalagi sekolah yang memang berlabel swasta. Di lain pihak rendahnya alokasi anggaran pemerintah untuk pendidikan membuat sengsara 100 juta rakyat miskin di negeri ini. Yang paling membuat kecewa, ketika alokasi anggaran yang sedikit itu mengalami kebocoran. Dalam artian dikorupsi sendiri oleh pemerintah. Itulah potret pendidikan kita hari ini.

 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic