TOLAK BHP, MAHASISWA UNHAS-POLISI BENTROK


Bentrok mahasiswa dengan polisi kembali terjadi. Kali ini giliran mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas). Bentrokan terjadi saat polisi berusaha membubarkan puluhan mahasiswa yang melakukan aksi unjukrasa di pintu I Unhas Jl Perintis Kemerdekaan, Selasa (16/12). Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Makassar (Alarm) ini menolak rencana pengesahaan Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan ( RUU BHP) menjadi undang-undang (UU). Dari pantauan BKM di lokasi kejadian, bentrokan sempat berlangsung tiga kali dalam waktu yang berbeda. Bermula sekitar pukul 11.00 Wita. Saat itu puluhan mahasiswa yang melakukan orasi menolak BHP, yang rencananya akan disahkan bulan Desember ini. Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo telah melontarkan rencana pengesahan BHP di salah satu stasiun televisi.



Ketika menggelar aksi, mahasiswa yang dikomandani Alex dan Iskandar ini menutup jalan depan pintu satu Unhas. Menurut penilaian mahasiswa, pengesahan BHP merupakan bentuk kekeliruan pemerintah dan DPR. Sebab dengan disahkannya BHP, anak buruh, petani dan kalangan bawah lainnya tak lagi bisa mengenyam pendidikan.
Ketika mahasiswa sementara menggelar orasi, personel Perintis Polresta Makassar Timur bersama anggota Polsekta Tamalanrea bermaksud membubarkan aksi mereka. Selain karena tidak ada pemberitahuan, mereka juga menutup jalan sehingga mengganggu pengguna jalan. Awalnya sempat berlangsung dialog antara polisi dan mahasiswa. Namun mahasiswa tidak bersedia membubarkan diri. Polisi akhirnya mengambil tindakan dengan membubarkan mereka secara paksa. Mahasiswa yang terdesak langsung melakukan perlawanan. Aksi saling lempar batu tak terhindarkan. Sebuah mobil pribadi dosen Peternakan, Nasaruddin terkena lemparan batu. Mobil Suzuki Carry warna biru DD 813 NC itu mengalami pecah kaca di bagian depan. ''Ini pengrusakan. Saya akan melaporkannya ke polisi,'' kaya Nasaruddin jengkel. Saat kejadian dia hendak mengajar di fakultasnya. Tidak lama kemudian aksi saling lempar batu mereda. Polisi pun mundur. Tapi satu jam kemudian peristiwa ini kembali terulang. Mahasiswa yang tidak puas lalu melakukan aksi tutup jalan sembari membentangkan spanduk dan berorasi. Dalam orasinya mereka melontarkan kata-kata yang membuat panas kuping petugas.
Pada saat yang bersamaan petugas Unit Khusus Polresta Makassar Timur tiba di lokasi. Mereka datang dengan menggunakan mobil tahanan.

Tanpa menunggu lama, polisi yang baru tiba ini langsung mengejar mahasiswa. Tak ketinggalan personel Perintis. Mereka melakukan pengejaran dengan menggunakan motor. Tindakan represif polisi ini membuat mahasiswa kocar kacir. Batu pun kembali melayang di udara. Tidak berlangsung lama, bentrokan kedua inipun berhenti dengan sendirinya. Tapi itu tidak berlangsung lama. 15 menit kemudian mahasiswa kembali melakukan pelemparan ke arah polisi. Petugas balik mengejar mahasiswa hingga masuk ke dalam area kampus. Saat itu juga Satpam kampus langsung menutup pintu masuk. Tindakan Satpam ini membuat berang polisi. Mereka menuding Satpam yang jumlahnya belasan orang itu mencoba melindungi mahasiswa. Salah seorang Satpam bernama Ilham jadi korban amukan petugas yang tak lagi bisa menahan emosi. Polisi terus mengejar mahasiswa. Batu masih berseliweran. Tapi polisi tidak ingin terpancing. Mereka tidak sampai masuk lebih jauh ke dalam kampus. Hanya sampai di dekat danau Unhas.
Suara tembakan peringatan ke udara terdengar beberapa kali. Namun mahasiswa tidak menghiraukannya. Dari dalam kampus mahasiswa menyerang polisi hingga ke jalan raya. Sejumlah polisi yang berada di ujung pintu I Unhas dilempari batu. Bentrokan akhirnya mereda sekitar pukul 13.00 Wita, setelah polisi berhasil mengamankan 7 mahasiswa yang diduga terlibat bentrokan. Diantaranya Ahmad, Ilham, Irhap, Ige masing-masing dari Fakultas Sospol, dan Ilo (Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil) serta Abd Malik (Fakultas Sastra). Tapi Ahmad, satu dari mahasiswa yang ditangkap polisi, mengelak tak terlibat. ''Saya tidak ikut, Pak. Saya baru datang,'' cetusnya. Selain itu polisi juga mengamankan dua unit motor, Kawasaki Ninja DD 6520 S dan Yamaha Jupiter DD 3385 WH. Kedua motor ini diduga milik mahasiswa. Akibat bentrokan ini jalan depan pintu I Unhas sempat macet beberapa jam lamanya. Banyak pengendara yang berhenti untuk melihat terjadinya bentrokan.

sumber; BKM (PR6/rus)
foto ; detik.com

Di Salebba, Sarana Tersedia Karena Warga Berusaha



Desa Salebba adalah tempat di mana tradisi gotong royong berdenyut kencang dan menjadi pembelajaran yang baik. Inilah kesan saya ketika mengunjungi desa yang jaraknya 30 kilometer dari Kabupaten Bone ini. Ia memiliki sesuatu yang berbeda dari 372 desa di bumi Arung Palakka tersebut.

Semangat gotong royong masyarakatnya dalam membangun desa sudah terasa ketika memasuki wilayah desa itu. Meski untuk sampai ke desa yang jaraknya 10 kilometer dari Kecamatan Ponre itu kita mesti menyeberang sungai Lagompa, di desa Pattimpae. Itu pun dengan catatan, sungai itu bisa dilintasi ketika musim kemarau tiba dan arus tidak deras.

Setelah melewati sungai, jalan berlumpur akan jadi halangan berikutnya. Jalanan mulai sedikit bagus jika berada di Desa Bolli. Hamparan padang rumput yang luas dan sapi-sapi yang berkeliaran menarik hati setiap pengendara untuk berhenti. Meski hanya sekadar untuk mengabadikan gambar. Decak kagum akan keindahan alam pegunungan Bone membuat seolah-olah setiap orang sedang berada di padang rumput Amerika yang luas.

Dari jalan itu, Desa Salebba belum kelihatan. “Letaknya di belakang gunung itu,” ujar Nas, pemandu jalan sambil menunjuk sebuah gunung yang letaknya di kejauhan. Jangan berharap untuk sampai ke desa itu perjalanan mudah dilalui. Setelah berlalu dari padang rumput, kita akan melalui jalanan yang terus menanjak. Tak hanya itu, jalanan yang licin, berbatu dan di samping kiri jurang menganga dengan lebar. Namun, bagi masyarakat hal itu bukan persoalan



Penduduk yang bermukim sejak tahun 1956 di desa itu menyambut setiap pendatang dengan keramahan. Biasanya pendatang menginap di rumah kepala desa. Di rumah panggung yang sederhana, Abdul Hamid (56) sang mantan kepala desa tinggal. Kepemimimpinan desa itu kini dilanjutkan oleh anak pertamanya. Malamnya, Abdul Hamid, banyak bercerita tentang awal kepemimpinannya di desa itu. Bagaimana memulai membangun desa dari awal hingga mampu mengajak masyarakat secara sukarela dalam setiap pembangunan. Upaya inilah yang Ia lakukan sejak tahun 1965, setelah pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar di tumpas oleh tentara Siliwangi. Satu tahun berikutnya (1966) Hamid terpilih mewakili warga desa untuk mengikuti pelatihan kader pembangunan desa di Jakarta. Bekal dari Jakarta ini kemudian diaplikasikan di desa itu.” Saya membangun desa ini dari nol,” ujarnya.

Seperti penguasa Orde Baru,Soeharto, Abdul Hamid di masa tuanya belum juga tergantikan. Belum ada yang mampu memimpin desa jadi alasan utama. Inilah yang membuat warga tidak mau jika Hamid pensiun. Sampai suatu ketika, anaknya yang kuliah di Unhas tahun 1991 dipanggil pulang dan diminta oleh warga jadi kepala desa. Akhirnya Mansyur Hamid pun jadi kepala desa hingga saat ini.

Terobosan baru
Setelah memimpin desa, Mansyur tetap berupaya membangun kepercayaan masyarakat yang sejak dahulu terjaga. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengupayakan listrik masuk desa. Pasalnya desa Salebba belum mendapat aliran listrik dari PLN. Hal ini terjadi karena jarak yang jauh, medan yang berat serta tak ada anggaran selalu jadi alasan pemerintah. Pun, ketika masyarakat meminta agar akses jalan yang mengubungkan Desa Salebba dengan kecamatan diperbaiki. Pemerintah Kabupaten Bone tak pernah peduli. Selalu saja ada alasan untuk tak memenuhi permohonan masyarakat.
” Semua saran kita akan tampung, begitu selalu alasannya,” ungkap Mansyur.

Karena tak mendapat perhatian, bersama warga desa berupaya membangun listrik secara swadaya. Dengan semangat gotong royong, masyarakat mampu mengumpulkan sumbangan sampai Rp167 juta untuk membeli alat-alat listrik. Saat bersamaan sekitar tahun 2000-an, seorang sekretaris camat pernah menawarkan untuk membangun turbin sebagai pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai.

Harapan untuk menikmati listrik juga tak kunjung datang. Apalagi setelah rencana pemasangan turbin gagal total. Uang seratus juta melayang begitu saja. Pasalnya, sekretaris camat yang awalnya mengaku bisa, rupanya tak ahli dalam bidang ini. Turbin yang telah dipesan tidak mampu mengalirkan aliran listrik. Proyek listrik gagal total. “Untung uang sisanya masih bisa kita selamatkan, dan sekcam tersebut dipindahkan ari kecamatan,” ungkap Pak Desa Salebba ini.

Persoalan ini pun menyebar ke seluruh penjuru kabupaten. Tanggapan miring pun datang silih berganti. Tetangga desa pun berlaku demikian, masyarakat mengolok-olok, menertawai apa yang Desa Salebba perbuat. “ Orang Salebba tiang jemurannya tinggi-tinggi di,” ujar Mansyur menirukan cemooh warga desa lain. Pasalnya, tiang listrik yang menjulang di sepanjang jalan desa berasal dari kayu. Bukan dari besi ataupun beton seperti lazinya tiang listrik.

Melihat keresahan warga, Kepala Desa kemudian berusaha mencari ahli yang bisa membuat mesin turbin, apalagi ada anggapan jika ini tidak berhasil, maka ia dan masyarakat desa akan menaggung siri` (malu). Budaya siri inilah yang membuatnya sampai ke Polmas mencari ahli turbin. Dengan bantuan ahli turbin dari Polmas itu dan memanfaatkan sisa anggaran yang ada, masyarakat desa bahu-membahu bekerja. Setela enam bulan menanti, kerja keras mereka menuai hasil. Turbin yang awalnya tidak menyala kini mampu mengalirkan listrik ke rumah-rumah di desa.

Tak berhenti sampai di situ, dua dari tiga dusun di desa tersebut juga dialiri aliran listrik. Mahalnya biaya untuk membuat mesin turbin dan alat listrik lain tak membuat warga putus asa. Dengan model swadaya, sekitar Rp125 Juta berhasil dikumpulkan warga di dua dusun tersebut. Kini rumah-rumah di desa tersebut telah menikmati listrik. Bahkan dusun terjauh (Palacari) yang jaraknya 7 km dari desa juga telah menikmati aliran listik. Sebuah hal yang ironi, saat desa lain yang jaraknya lebih dekat dari kecamatan tak memiliki aliran listrik.

Membangun Taman Paditungka
Tak hanya sekadar membangun jeringan listrik. Warga desa juga membangun Taman Paditungka, sebuah tempat belajar untuk anak usia dini. Untuk Taman Paditungka ini, warga desa mendapat bantuan dari UNICEF. Bantuan ini hanya untuk guru-guru yang akan mengajar. Mereka dilatih bagaimana menghadapi dan menyelesaikan persoalan anak kecil. Sementara bangunan dan tanah untuk taman ini ditanggung oleh warga desa.

Karena awalnya belum mendapat tempat, kantor desa pun dijadikan sebagai ruang kelas. Selama setahun (2007-2008), warga desa kembali bahu membahu mendirikan taman paditungka. Untuk keperluan taman dibutuhkan lahan (tanah), kayu dan tukang yang mau mengerjakannya. Semua hal itu tentu butuh biaya banyak. Namun, mungkin karena ingin melihat desa mereka maju. Warga secara sukarela memberikan tanah sebagai tempat taman itu berdiri. Selanjutnya, warga lainnya menyumbang kayu, cat dan lain sebagainya. Tukang-tukang yang bekerja juga tak meminta imbalan. Mereka semua bekerja secara sukarela. Walhasil bulan juni 2008, Taman Paditungka itu bisa digunakan dan tak perlu menumpang di kantor desa.”Semuanya berasal dari sumbangan warga,” jelas Mansyur.

Membenahi Jalan Desa Tetangga


Kini, setelah ada dana PNPM dari pemerintah, warga desa memanfaatkan untuk membenahi jalanan yang sedari dulu tak pernah bagus. Tapi, uniknya bukan jalan di desanya yang diperbaiki. Melainkan jalan desa tetangga yang akan dibenahi untuk tahun ini. Tahun depan jika PNPM masih ada, jalan di sekitar desa baru akan diperbaiki. Hal ini mereka pilih karena Desa Bolli sebagai desa tetangga tak menganggarkan PNPM untuk membenahi jalan.

Desa Salebba pun mulai dikenal sebagai desa yang dibangun atas partisipasi warga. Jika ada persoalan, warga yang umumnya bekerja sebagai petani tak akan tinggal diam. Mereka akan bahu-membahu menyelesaikan tiap persoalan yang dihadapi. Inilah yang kemudian mengundang pihak JICA dan 12 negara di Asia mengunjungi Desa salebba. Selain itu, Pemerintah Aceh juga pernah datang melihat desa itu” Setiap tamu yang datang selalu bertanya bagaimana caranya warga berpartisipasi aktif membagun desa,” ungkap Mansyur Hamid.(p!)

sumber ; www.panyingkul.com

*Citizen reporter Ismawan AS dapat dihubungi melalui email mawo_as@yahoo.co.id

INFORMASI BUAT BLOGGER; KOMPETISI DESAIN WEB / BlOG

informasi ini mungkin cukup bagus untuk setiap kawan-kawan penggemar blog ataupun website. siapa tau bisa jadi juara.

Web / blog yang dilombakan :

* Adalah web / blog pribadi yang masih sekolah di tingkat SLTA, atau pun web resmi sekolah tingkat SLTA
* Web /blog komunitas khas anak muda (usia 15 s/d 22 th) & mahasiswa (misal web komunitas skateboard, komunitas game, dll).
* Dibuka untuk perseorangan atau tim.
* Web / blog yang dilombakan bisa menggunakan top level domain sendiri (misal www.namadomainku.com) atau subdomain (misal subdomain.blogspot.com), baik yang berbayar maupun gratis, atau dapat memanfaatkan situs pertemanan yang ada seperti blogger.com, Multiply.com, blog di friendster, dll.
* Lomba menggabungkan antara kualitas tulisan dan kualitas desain
* Halaman web yang dilombakan minimal 1 halaman, berisi artikel sesuai dengan tema yaitu Tema : "Jadilah Sahabat Bumi"
* Di halaman web-nya, peserta lomba harus menyertakan : kalimat yang berbunyi “Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3” yang bisa terbaca secara normal dan bisa diindeks oleh mesin pencari. Lokasi kalimat itu bebas saja.
* Mencantumkan link balik (backlink) yang menuju ke alamat web Muda di www.mudaers.com,
* link harus bisa di klik dan mengarah ke alamat web Kompas MuDA.
* Peserta lomba harus mencatatkan keikutsertaannya di web Kompas Muda (www.mudaers.com). (Info selanjutnya bisa dicek di www.mudaers.com).
* Link website / blog sudah diterima panitia paling lambat 20 Januari 2009.
* Wajib mengisi dan mengirim formulir pendaftaran lomba yang bisa didownload dari menu download di Mudaers.com. Formulir harus disertai kupon Muda Creativity Kompas - IM3 yang bisa digunting dari Kompas MuDA tiap hari Jumat. Kupon tidak bisa difotocopy. Pengiriman dialamatkan ke Marcomm Kompas di atas.
* Untuk pertanyaan lebih lanjut, silakan ajukan di Forum Diskusi web mudaers.com


sumber : google.com




ini cerita tentang kehidupan gembala sapi di wilayah Kabupaten Gowa. beberapa bulan lalu saya bejumpa dengan kawanan ni. itupun tanpa disengaja. Tiap hari mereka mengurus sapi seorang karaeng. Mereka menerima gaji Rp.1000-Rp 5000 perhari. Itulah yang mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. apalagi kebanyakan orang tua mereka adalah tukang becak dan pa'gandeng. Jangan tanya tentang sekolah. Pasalnya, bahasa indonesia saja susah. Sangat disayangkan, saat pendidikan gratis didengungkan. masih ada anak-anak yang tak tersentuh pendidikan.Sebuah paradox yang membuat hati kita miris..

ismawan as

SUATU PAGI DI TAMALANREA : BAPAK TUA TERKAPAR TAK BERDAYA

Pagi tadi saat hendak berangkat ke wilayah abdullah daeng sirua, di bilangan jalan perintis kemerdekaan tepat di depan pintu satu Unhas saya mendapati tubuh seseorang terkapar tak berdaya. Dari jarak 10 meter saya memandangi sosok yang memakai jaket abu-abu dan celana biru itu tanpa kata-kata. Batin saya bertanya aa gerangan yang menimpa orang itu?. Setiap orang yang lewat sepertinya tak peduli pada sosok itu. Mungkinkah itu mayat, orang mabuk yang tak sadarkan diri, atau orang yang dipukul/dikeroyok semalam tadi. Entahlah, tapi yang pasti sedikitpun sosok itu tak bergerak.
Jalan perintis kemerdekaan sudah ramai dengan kendaraan, aktivitas di daerah dekat kampus Unhas itu memang padat. Selain pertokoan yang mulai terbuka. Penyedia jasa ketik skripsi juga sudah mulai beraktivitas sejak subuh hari. Di pinggir jalan, beberapa mahasiswa, pegawai yang hendak ke kampus mulai gusar menunggu pete-pete 08 yang biasa beroperasi. Pasalnya pagi itu hujan rintik-rintik mulai mengguyur wilayah tamalanrea. Sementara tidak ada tempat berteduh yang lazimnya ada di pinggir jalan.
Saya masih berdiri terpaku memandangi sosok tak berdaya tersebut. Mencoba mengamati setiap orang yang lewat, tak ada yang peduli pada sosok itu. Semuanya nampak sibuk dan seolah-olah tak mau melihat orang yang terkapar itu. Batinku teriris mengamati situasi pagi itu. Namun saya mecoba berfikir positif. Mengingat bahwa jangan gegabah menyentuh seseorang korban. Pasalnya, bisa saja kita yang dijadikan tersangka jika salah-salah menyentuh korban.
Setelah saya dekati. Rupanya sosok yang tak berdaya itu orang tua yang umurnya kira-kira 50 tahun. Lalat nampak menari-nari di atas tubuh tua itu. Ketika saya mendekati, jidat bapak itu nampak merah. Mukanya lebam. Mungkin saja ia pingsan karena terjatuh dari bangku. Pasalnya di dekat bapak itu terdapat bangku yang sudah terbalik posisinya. Tak lama kemudian, seorang ibu yang akan mengantar anaknya ke sekolah nampak meletakkan dua buah roti dan satu kotak susu di depan bapak itu. Saya menangkap sebuah kepedulian yang cukup tinggi. Lagi-lagi naluri seorang ibu yang tak pernah habis enegi positifnya selalu terpancar dengan baik.
Ingatan saya juga terbang ke masa lalu.Terbaring di pinggir jalan seperti bapak itu jug pernah saya alami di depan PLTU Tello. Saat masih sekolah di SLTP 8 Makassar dulu. Ketika pulang sekolah karena alasan sakit. Tiba-tiba pandangan saya kabur dan saya tak sadarkan diri alias pingsan. Saat sadarkan diri, seorang nenek tua marah-marah karena tak ada yang peduli terhadap tubuh kecil saya. Ia membantu saya berdiri dan mencarikan pete-pete ke rumah. Pasalnya, saat itu tak ada taksi yang mau berhenti. Sejenak saya bayangkan, tubuh kecil saya tergeletak di atas batu-batu kecil di samping PLTU itu. Tubuh kecil memakai baju sekolah putih-biru tergeletak dan tak berdaya. Lalu semua orang hanya memandangi, mengamati dan tak sediktpun tersentuh untuk menolong. Parahnya lagi, seorang tetangga dekat rumah di Perumnas Antang sedikitpun tak peduli. Untung saja nenek itu datang dan menolong. Di atas pete-pete menuju rumah, saya berterima kasih pada nenek tua itu. Dari percakapan dengan nenek itu, saya nengetahui jika Ia adalah nenek teman saya dari Ambon.
Tamalanrea pagi itu pun diguyur hujan deras.Dan peristiwa pagi itu membuat hati saya teriris. Sifat peduli dan rasa bersesama diantara kita akhirnya terkikis. Dan benar kata seorang dosen teman berdiskusi kemarin sore jika zaman ini menghasilkan manusi-manusia individualistik.

Abdgsirua,12 Desember 2008

TANPA JUDUL...

Jika ditanya, apa yang aku impikan hari ini. aku akan jawab jika hari ini aku ingin terbang di atas cakrawala, mengitari seluruh angkasa dan membagikan kebahagiaan pada semesta alam.

"muncul setelah mendengar lirik lagu tentang laskar pelangi,"

SUATU PAGI DI HARI SABTU, MENUNGGU



“Hal yang paling tidak aku suka adalah menunggu”.

Pagi tadi di sebuah bengkel di bilangan jalan perintis kemerdekaan 10, di depan CafĂ© Abdi Agung perasaan jenuh, jengkel datang menghampiri. Mau marah, bingung juga siapa yang jadi pelampiasan. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak dan pergi dari bengkel kecil itu. Sejak pukul 08.00 pagi tadi, saya sudah menunggu. Bu Aji dengan penutup kepala khas orang bugis yang jadi penjaga bengkel masih merapikan alat-alat motor dan bahan jualannya. Ibu itu berkata ” tunggumi nak, di jalan mi itu yang mau perbaiki motormu,” ujarnya dengan logat Bugis. Untuk menghindari serbuan rasa bosan, saya memcoba mengusir dengan menyeruput kopi di Warkop Daeng Sija, kebetulan jarak warkop tempat kumpulnya borjuis imut-imut itu tidak jauh dari bengkel. Segelas kopi susu dan dua buah roti, serta Koran fajar dan hentakan music anak muda sekarang jadi sarapan pagi seluruh indera tubuhku.koran pagi itu mengangkat isu tentang penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) awal Januari nanti.
Memang sejak Desember ini harga BBM dalam hal ini bensin telah mengalami penurunan, jumlahnya hanya Rp.500. Meski hal itu tidak sesuai dengan harapan sebagian besar masyarakat, namun setidaknya cukup meringankan beban ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Termasuk saya ini yang masih berstatus mahasiswa. “ Ah ini hanya maneuver SBY saja, strategi mencari simpati rakyat jelang pemilu 2009 april mendatang, sungguh licik dan hanya mementingkan kepentingan parpol atau dirinya saja, beginilah rakyat kemudian selalu jadi korban,” cetusku.
Selain itu dari Koran pagi tu juga kudapiti kalau Rektor Unhas. Prof Idrus Paturusi dinobatkan salah satu majalah Asia sebagai rektor terbaik di negeri ini. Sebelumnya ada Prof Gumilar dari UI, UGM,ITB,Undip yang jadi peringkat 1-4. Sebuah prestasi Unhas di tengan pencitraan sebagai kampus tawuran. Seingatku beberapa kali tawuran antar fakultas hampir terjadi bulan ini. Bahkan isunya sampai ke organ kultur daerah melawan salah satu fakultas di kampus. Ironis memang di saat rektor nya mendapat penghargaan, dan kampus ini juga meraih penghargaan dalam bidang kampus olahraga. Mahasiswanya masih berprilaku barbar, mementingkan ego kelompok, kedaerahan. Memutuskan persoalan dengan emosi tidak dengan memakai otak dingin. Beberapa hari lalu, seorang teman yang bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi swasta (Metro Tv) juga merasakan prilaku nyeleneh mahasiswa Unhas, kejadiannya ketika melakukan peliputan di jalan Perintis Kemerdekaan. Sekelompok mahasiswa yang berasal dari Fakultas Teknik merampas kamera dan mengambil kaset rekaman tawuran antara mahasiswa FT dengan mahasiswa UMI tersebut. Untung saja, seorang teman yang kebetulan lewat dan meminta kawan saya itu dilepaskan.
Menjadi pertanyaan kita, apa sebenarnya yang dilakukan rektor hingga bisa mendapat penghargaan. Kalau secara infrastruktur, memang harus kita akui jika kampus ini memiliki gedung-gedung yang baru lagi. Sampai-sampai semua fakultas mirip rumah sakit. Akses internet dimana-mana bisa dilakukan Tapi, prilaku mahasiswa yang barbar, solidaritas kawanan, kelompok, dan parahnya lagi kembali seperti ”remaja” imut-imut dan mulai belajar korupsi kecil-kecilan. Kasihan.
Belum lagi ruang diskusi makin hilang dan prilaku birokrat dan dosen yang sudah menyerupai pejabat. Mobil-mobil mewah berseliweran di pelataran rektorat. Sementara gaji pegawai kecil kadang terlambat tidak di bayar, biaya praktek mahasiswa yang semakin melangit dan alat-alat laboratorium yang masih peninggalan zaman batu. Dosen yang makin sibuk dengan proyek, lalu mahasiswa terlantar. Mau bukti, di fakultas saya saja di FIKP, dosennya banyak yang menghilang entah kemana. Setelah di selidiki, ternyata sebagian pada sibuk dengan proyek di luar daerah. Hingga seorang teman angkatan saya dulu, sempat terganjal di seminar proposal karena pengujinya tidak ada. Jadi wajar saja jika kemarin ada tulisan di dinding kampus yang bertuliskan “urus saja proyekmu”. Setelah berdiskusi dengan seorang dosen. Ia mengatakan jika hal itu angga saja hal biasa, mahasiswa memang butuh diperhatikan. Biar dosen proyek juga sadar.Tapi dosen mana lagi yang mau peduli jika sudah bergelimpangan dengan uang ratusan juta rupiah. Ujung-ujungnya duit.
Tanpa terasa 45 menit aku lewatkan di warkop itu, setelah itu kulangkahkan kaki menuju bengkel dengan harapan tukang servisnya sudah datang. Namun sampai di sana, yang ditunggu juga belum nampak batang hidungnya. Jam 9.30 tukang service itu dating. Dengan motor bebek tahun 90-an anak muda itu bergegas ke dalam. Selain saya, beberapa pelanggan juga motornya akan diservis. Perasaan damai pun muncul. Setitik harapan motor ku akan diperbaiki. Namun menjelang pukul 10.00 yang artinya sudah 2 jam saya duduk di bengkel itu, tetap saja motorku belum disentuh-sentuh.
Perasaan tak damai menghampiri, sementara yang punya bengkel juga sibuk sendiri. Apalagi sejak tadi kerjaannya hanya mondar-madir keluar masuk. Sungguh tidak produktif gummaku. Tak lama kemudian kuputuskan untuk pergi dan mencari bengkel yang lain.

Tamalanrea, sabtu, 6 Desember 2008
 

© Copyright berandamao . All Rights Reserved.

Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic