ini perjalanan kami sewaktu mengunjungi Kabupaten Bone. Mengabadikan perjalanan dengan gambar merupakan pekerjaan wajib buat kami ( mao, collenk, irfan dan Callu).Mesk itu tak bisa mewakili suasana perjalanan yang cukup berat. Namun, foto akan tertap bermakna dalam diam.
SISA PERJALANAN DARI BONE 2: MAKNA SEBUAH GAMBAR
Posted by
Berandamao
on Thursday, 4 December 2008
/
Comments: (1)
ini perjalanan kami sewaktu mengunjungi Kabupaten Bone. Mengabadikan perjalanan dengan gambar merupakan pekerjaan wajib buat kami ( mao, collenk, irfan dan Callu).Mesk itu tak bisa mewakili suasana perjalanan yang cukup berat. Namun, foto akan tertap bermakna dalam diam.
SISA PERJALANAN DARI BONE 1: MENGGUGAH HATI LEWAT AYAT-AYAT CINTA
Posted by
Berandamao
/
Comments: (0)

Berbagai cara dilakukan untuk menggerakkah hati masyarakat untuk lebih dekat dengan bidan. Salah satunya dengan ayat-ayat.
“Insya Allah persalinan’ta aman. Bila ditolong bidan, ibu selamat. Anak’ ta sehat sampai besar. Firman Allah Qulhal yastawiladzina ya’lamuna walladzina ya’ lamun”.
Itulah pesan yang terpampang pada sebuah papan pengumuman di pinggiran jalan poros Kabupaten Bone –Kabupaten Wajo, tepatnya di Desa Solo, Kecamatan Dua Boccoe. Sederhana memang, tapi kekuatan tulisan yang terdapat di papan itu mampu menarik mata setiap warga yang lewat. Serasa ada yang kurang jika tak membaca pesan itu. Kemasannya sederhana, namun kekuatan isinya cukup menggugah setiap orang yang lewat. Apalagi ibu yang sementara hamil.
Kepedulian akan keselamatan ibu dan bayi menjadi titik perhatian dari pesan yang disampaikan para imam desa ini. Lihat saja pesan yang ditulis di Desa Laccori ”Ingin melahirkan dengan mudah. Periksa ke bidan. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan merekalah orang-orang beruntung.( albaqarah: 5 )
Peran para imam desa mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan bidan patut diacungi jempol. Pasalnya, sebagai orang yang dianggap ’to matoa’ (orang yang dituakan), mereka berupaya membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak dengan pendekatan kultur religius.
Kembali ke Ayat-ayat suci memang masih dijadikan sandaran masyarakat desa. Pasalnya, kultur sosial masyarakat desa yang religius menjadi faktor utama. Apalagi di kalangan suku bugis (Bone). Pengaruh ajaran islam yang masih kental mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakatnya. ”Kalau orang beriman, kepercayaannya semakin kuat jika dibarengi dengan ayat-ayat,” ujar H. Syamsu Alam, Imam Desa Solo.
Inisiatif Syamsu untuk menyampaikan pesan lewat media pengumuman itu merupakan upaya untuk menggugah hati warga desa agar lebih dekat dengan bidan. Tempatnya pun dipilih di pingggir jalan, supaya setiap orang yang lewat bisa membacanya tiap saat. Dengan berdirinya papan itu, berarti ada bukti yang terlihat. ”Jadi masyarakat bisa lihat sendiri, karena kalau dibicarakan, kadang ayatnya bisa meleset,” ungkapnya dengan tersenyum sumringah.
Pengaruh ayat-ayat suci alqur’an dan hadis Nabi Muhammad SWA yang ditulis pada papan-papan pengumuman, apalagi memuat pesan kesehatan membuat kepercayaan masyarakat makin besar. ”Karena ada tertulis di papan, kita bisa lihat langsung dan memaknai setiap pesannya,” ujar Nurjannah (34 th). Warga desa Solo ini melihat setelah ada pesan-pesan dari puang imang, para ibu-ibu hamil di kampung bersatu itu mulai rajin memeriksakan kandungannya. Apalagi di desa itu memang ada bidan yang bertugas.
Di tiap desa yang menjadi wilayah cakupan program UNICEF, dapat kita temukan pesan-pesan yang tepasang di papan. Selain berisi pesan dari ayat alquran. Pesan berbahasa bugis juga tak dilupakan. Pasalnya sebagian masyarakat desa belum bisa berbahasa Indonesia. Jadi bahasa ’ibu’ yang dipakai. Makanya tak heran jika di setiap papan pengumuman terdapat huruf lontara.
Kombinasi ayat dan tulisan lontara ini tentunya membuat masyarakat makin percaya. Sejak saat itu, para ibu mulai rajin datang ke bidan untuk memeriksakan kehamilannya. Apalagi pembawa pesan itu memang to matoa’ ta.
Romantisme Mahasiswa"
Posted by
Berandamao
on Tuesday, 2 December 2008
/
Comments: (0)
Romantisme mahasiswa adalah sebuah pencapaian yang tak semua mahasiswa bisa merasakannya, hanya mereka yang memiliki militansi dan merasakan riuhnya gerakan mahasiswa. sebab itu semua tak ternilai harganya.
(MaO, (LK1) HIMIKA FK Unhas. Sabtu 2 feb 2008)
(MaO, (LK1) HIMIKA FK Unhas. Sabtu 2 feb 2008)
Tulisan 1 : Road To Baruga
Posted by
Berandamao
/
Comments: (6)

Kemarin dalam perjalanan ke kampus Unhas di bilangan Tamalanrea, sepanjang jalan aku berfikir untuk mengabadikan pengalaman menuju gedung Baruga. Sebuah gedung yang jadi saksi sejarah kehidupan bermahasiswa di kampus ini. Bukan hanya saya, melainkan ribuan sarjana yang telah melewati tangga, menkmati kursi empuk warna merah dan berdiri panggung besar di gedung itu. Sebuah gedung yang bentuknya mirip perahu jika dipandang dari lantai empat fakultas kedokteran. Sungguh indah dengan rimbunan pohon yang berada di sekitarnya.
Aku ingin memulai dengan bercerita tentang gedung itu, lalu mengumpulkan serpihan-serpihan serta sketsa yang pernah aku jalani di kampus ini. Sungguh sebuah ide yng cukup cemerlang. Selain mengumpulkan sketsa yang mulai pudar, aku ingin membagi cerita tentang sulitnya berhadapan dengan birokrasi yang ketat, kehidupan kampus yang keras, ruang diskusi mahasiswa yang mulai tidak nampak, budaya pop dan perjuanganku menuju gedung itu yang bagiku cukup keras.
Beberapa tahun lalu, Baruga memang menyihir setiap mahasiswa baru termasuk aku untuk mencintai kampus ini. Di dalam gedung itu kejayaan Unhas digambarkan. Dan sebagai mahasiswa baru, kita hanya bisa terkagum-kagum dengan presentasi rector dan pembantu-pembantunya yang rata-rata lulusan luar negeri. Sekali lagi, dari kacamata mahasiswa baru, kita dibuat kagum dengan Unhas di dalam gedung Baruga yang mampu menampung ribuan orang. Sekali lagi Baruga memang istimewA. Gedung itu kalau tidak salah lengkapnya Baruga Andi Pangeran Pettarani.
Bersambung …
Tamalanra, 2 Desember 2008
MENGGAGAS KEPEMIMPINAN ALTERNATIF
Posted by
Berandamao
on Monday, 1 December 2008
/
Comments: (0)
Terpuruknya bangsa ini tidak terjadi begitu saja. Melainkan peran pemimpin yang tak mampu mendorong perubahan. Olehnya itu dibutuhkan pemimpin yang mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik.
Menjelang pemilihan presiden 2009 mendatang, wacana mengenai kepemimpinan alternatif terus mengemuka pada setiap dialog ataupun forum yang membahas tentang keindonesian. Hal ini tiba-tiba menjadi menjadi bagian terpenting dalam sendi kehidupan berbangsa. Pasalnya bangsa ini tetap saja mengalami krisis sejak kemerdekaan dikumandangkan oleh Ir Soekarno-Hatta 60 tahun silam. Tak ada perubahan mendasar ataupun loncatan perubahan yang progresif bagi bangsa ini. Semua bahasa tentang perubahan hanya kumpulan kata-kata yang utopis. Bangsa ini tetap saja jalan di tempat.
Jika dibandingkan dengan negara lain, misalnya saja Jepang, ataupun Malaysia, Indonesia sudah ketiggalan jauh. Padahal masih lekat dalam benak kita saat kemerdekaan dikumandangkan, bangsa Jepang dibumihanguskan oleh Amerika. Lalu bagaimana dengan Malaysia, tahun 70-an, tenaga pengajar di negeri ini dikontak untuk mengajar di negeri melayu tersebut. Namun, saat ini kemajuan cukup terlihat di negeri tersebut. Sedangkan Indonesia sebagai salah satu negeri yang memiliki sumber daya alam terbesar di dunia belum beranjak dari krisis.
Indonesia hari ini adalah bangsa yang mengalami krisis kepemimpinan, krisis ekonomi, krisis kemanusiaan, kemiskinan, kebodohan, korupsi merajalela, dan terancam terpecah akitbat disintegrasi bangsa. Wajah bangsa ini jelas bukan hal yang begitu saja terjadi, melainkan pemimpin yang mengelola bangsa ini belum mampu membawa perubahan dan membuat bangsa ini lebih bermartabat merujuk pada hasil indeks pembangungan manusia yang menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari dari 175 negara di dunia dan berada pada posisi 6 untuk negara ASEAN. Lebih rendah dari Singapura, Brunei Darussalam, diikuti Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, Kamboja, Myanmar, serta Laos.
Jika menjadikan standar IPM untuk mengukur kemiskinan, maka masyarakat bangsa kita adalah orang-orang yang miskin akibat krisis ekonomi yang tak pernah berhenti. Mahalnya harga kebutuhan pokok dan seringnya harga BBM dinaikkan membuat daya beli masyarakat berkurang. Sementara pemerintah tidak pernah mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Bagaimana dengan pendidikan, Laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), yang dirilis pada Kamis (29/11/07) menunjukkan, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Yang jelas, education development index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965).
Demikianlah artikulasi negara ini. Tak ada perubahan yang betul-betul mampu membawa bangsa ini menjadi negara yang bermartabat. Makanya bagi sebagian orang, kepemimpinan alternatif perlu didorong. Setidaknya ada oase yang menyejukkan di tengan gersangnya kepemimpinan bangsa. “ Yang ada saat ini merupakan tokoh lama yang sudah jelas kegagalannya,misalnya saja SBY-JK, Megawati, Gusdur dan lain-lain,” ujar Wildan. Menurut Ketua KAMMI Daerah Garut ini, mestinya ada regenerasi kepemimpinan. Utamanya keberanian menyerahkan tongkat estafet kepada politisi muda. Hal ini menjadi penting karena kaum muda itu punya semangat untuk berubah, progresif, relatif berani melakukan terobosan baru, dan tidak memiliki kesalahan ataupun dosa masa lalu. Termasuk utang budi masa lalu, tidak terlibat korupsi, dan kasus pelanggaran Hak asasi manusia. Sedangkan mereka yang sudah tua, sudah menunjukkan ke publik cara ataupun model kepemimpinannya. Namun tetap saja mengalami kegagalan. Lalu kepemimpinan yang bagaimana yang dibutuhkan?. Salah satu solusinya adalah menggagas kepemimpinan kaum muda. Nelson mandela jadi tokoh sejak dari muda, Soekarno, Hatta, Syahrir, Evo Morales, Barack Obama dan tokoh perubah lainnya memulai medorong perubahan sejak usia muda. “ Makanya kita mendorong agar anak muda diberi kesempatan, sebab mereka punya karakter yang progresif, apalagi saat ini trend kepemimpinan muda,” tambahnya. Mungkinkah pemimpin alternatif itu adalah kaum muda. “Mereka bisa menterjemahkan visi pribadi dan visi organisasi menjadi sesuatu yang nyata,” Ujar Aryanto Abidin, Wapres BEM Unhas. Lebih lanjut ia mengungkapkna pemimpin itu mestinya mampu melakukan transaksi sosial politik dengan rakyatnya. Inilah yang dikenal dengan kontrak politik. Dan hanya anak muda yang mampu menerjemahkan hal tersebut.
(Mao)
UNHAS DAN PRIVATISASI PENDIDIKAN
Posted by
Berandamao
on Tuesday, 25 November 2008
/
Comments: (0)
“Pendidikan benar-benar menjadi komoditas dagang dalam benak masyarakat kita (Lihat Roem Topatimasang; "Sekolah itu Candu" ,1998)
Apa yang diungkapkan oleh Roem Tomatipasang pada dasarnya merupakan sebuah kritik social terhadap pendidikan hari ini. Sejatinya pendidikan adalah sebuah proses yang bisa memanusiakan manusia. Itu kata Paulo freire yang melihat dari sisi humanistik. Memang wajar jika Freire berfikir demikian. Pasalnya, pendidikan jadi salah satu wadah untuk menjadikan setiap manusia memahami esensi kemanusiaannya dan sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan.
Sama halnya dengan Mansoer Fakih (2001). Pertama, pendidikan dipahami sebagai wahana untuk menyalurkan ilmu pengatahuan, pembentukan watak serta media untuk meningkatkan keterampilan kerja. Kedua, pendidikan sebagai wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral serta ajaran keagamaan dan meningkatkan taraf ekonomi dan status sosial. Ketiga, wahana untuk memanusiakan manusia.
Itulah yang kemudian dituangkan dalam pembukaan UUD 1945. Termasuk upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab, pendidikan diyakini mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dari penjajahan, kemiskinan, kebodohan. Tingkat pendidikan manusia indonesia saat ini cukup jauh. Peringkat 111 dari 167 negara.
Pendidikan sejatinya adalah hak bagi setiap warga negara dan pemerintah wajib untuk menyalurkan anggaran pendidikan 20 %. Sebab hal itu yang terangkum dalam undang-undang. Dalam artian, pemerintah diamanatkan pasal 31 UUD 45 untuk membiayai warga negara.
Namun, realitas hari ini tidak seperti itu. Pemerintah lebih memilih menandatangani General Agreementon Tradein Services (GATS). Pada perjanjian Organisation WorldTrade (WTO). Hal ini kemudian dikenal dengan Konsensus Washington. itulah awal dari skenario libealisasi di Tanah Air.
Nah, sebagai projec awal, pemerintah melalui BHMN melakukan privatisasi terhadap PTN. Maka jadilah UI,ITB,UGM,IPB berubah status jadi perguruan BHMN. Sejak 2003 itu, perguruan tinggi ini teru menaikkan anggaran pendidikannya hingga saat ini.
Lalu, bagai mana dengan unhas?. Latah kemudian menjangkiti para birokrat kampus. Lihat saja sampai 2008 ini Unhas melakukan penerimaan mahasiswa baru sampai 8 jalur. Dan sejak tahun 2003 biaya SPP mahasiswa mulai dinaikkan. Terakhir 5 tahun kemudian SPP mahasiswa kembali naik. Dengan dalih unhas menerima lewat jalur ekstensi. Padahal, alasan awalnya hanya untuk mengisi kursi yang kosong..
Ismawan as
Mahasiswa Unhas 03
HUJAN
Posted by
Berandamao
on Monday, 10 November 2008
/
Comments: (3)
Hujan kemarin mengingatkanku tentang peristiwa pada masa lampau. Begitu lekat dalam benakku hingga membuat tatapanku nanar jauh ke arah tamalanrea. Dari gedung tingkat 4 LAN Antang kuamati hujan yang makin deras, ia membasahi kaca jendela. Bulirnya berlomba-lomba menuju tanah. Serasa ingin mencumbui semesta yang terdapat pada bumi. Dari kaca jendela, aku mendengar keriangan dan merasakan kegembiraan hujan. Wajar saja hal itu terjadi, soalnya baru pertama kali turun ke bumi selama beberapa bulan mengitari angkasa. Ada kerinduan yang begitu Dalam menyapa hatiku. Namun, semuanya hanya ada dalam kenangan. Inilang mungkin yang sebagian teman-teman aktivis kenal sebagai filosofi plato.
Tak lama kemudian, hujan perlahan mulai berhenti. Orang-orang mulai beraktivitas kembali setelah berteduh di beberapa rumah penduduk. Hujan kali ini menyisakan perasaan hampa yang tak berujung. Dari jauh tamalanrea terlihat sepi dengan orang-orang yang kehilangan. Kehilangan rasa kemanusiaan, keadilan dan cinta damai. Hujan kali ini datang mengembalikan rasa itu.
Aku ingin kembali
Home,latimojong, 11 november 2008
Tak lama kemudian, hujan perlahan mulai berhenti. Orang-orang mulai beraktivitas kembali setelah berteduh di beberapa rumah penduduk. Hujan kali ini menyisakan perasaan hampa yang tak berujung. Dari jauh tamalanrea terlihat sepi dengan orang-orang yang kehilangan. Kehilangan rasa kemanusiaan, keadilan dan cinta damai. Hujan kali ini datang mengembalikan rasa itu.
Aku ingin kembali
Home,latimojong, 11 november 2008
